ads

Nasional

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

FRONT MAHASISWA NASIONAL SURABAYA MENGECAM TINDAKAN PERSEKUSI, DISKRIMINASI RASIAL, PENCULIKAN DAN PENANGKAPAN MAHASISWA PAPUA DI SURABAYA

•Pada pukul 06:00 WIB dilakukan aksi oleh mahasiswa Papua dalam rangka memperingati Independence Day of West Papua

•Mulai pukul 07:30 WIB ormas reaksioner mulai memprovokasi massa aksi mahasiswa Papua

•Pada pukul 08:00 WIB terjadi penyerangan dari ormas reaksioner berupa pelemparan batu, botol, dan bambu runcing (perangkat aksi) yang mengakibatkan 16 orang luka-luka dan tiga di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit karena kepalanya bocor.

•Pukul 09:00 WIB kawan-kawan non-Papua yang membantu untuk mendokumentasikan aksi dikejar, dibuntuti dan difoto oleh aparat kepolisian

•Kemudian pukul 09:30 WIB, Masa aksi membubarkan diri dengan dikawal pihak kepolisian. Pada saat bersamaan dari arah monkasel ormas reaksioner memprovokasi massa aksi kembali dengan meneriaki kata kata kasar, sampai dengan jembatan kalimas ormas baru membubarkan diri.

•Pada pukul 11.30 WIB Massa aksi sampai ke asrama papua kamasan. Setelah itu di depan asrama papua kamasan terdapat truk polisi dan banyak aparat yang berkumpul di asrama dengan dalih penjagaan

•Mulai pukul 22.00 jumlah personil kepolisian mulai bertambah. Ada 6 truk pengangkut yang didatangkan. Kemudian mereka melakukan intimidasi agar mahasiswa papua non-Surabaya  untuk pulang saat itu juga ke kota masing-masing. Mahasiswa papua kemudian menolak karena sudah mempunyai agenda untuk pulang pada hari ini (2/12) karena telah memesan tiket kereta maupun bus.

•Pada pukul 22:30 WIB terjadi negosisai antara mahasiswa, yang diwakili oleh kuasa hukum Veronica Koman dengan aparat kepolisian. Negosiasi yang dilakukan berlangsung selama satu jam dengan menghasilkan dua opsi yaitu, mahasiswa papua dipulangkan ke kota masing-masing atau digelandang ke polrestabes Surabaya.

Kemudian pada pukul 01.00 WIB aparat kepolisian kemudian menggelandang mahasiswa Papua yang berjumlah 233 orang ke Polretabes Surabaya. Kawan-kawan Non-Papua yang bertugas untuk berjaga dikejar dan dipisahkan dengan kawan-kawan mahasiswa Papua.
Salah seorang kawan sekaligus anggota Front Mahasiswa Nasional Surabaya yang bernama Fachri Syahrazad (Mahasiswa ITS D4 Infrastruktur Sipil) diduga diseret oleh anggota polisi dan sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. Barang-barang Fachri ditemukan di Asrama Papua, ponselnya terakhir dapat dihubungi pada pukul 00:40 dini hari.

Saksi kami yang pada saat itu juga sedang berada di asrama Papua menyaksikan Fachri ditarik oleh orang berpakaian preman yang diduga adalah aparat kepolisian, saat Fachri ingin pulang (sudah menaiki motornya). Penangkapan ini dilakukan tanpa dasar, tanpa ditunjukkan surat tugas. Di saat terakhir pemantauan kami terhadap kawan Fachri, dia dibawa ke warung sekitar. Beberapa menit kemudian, kami mengutus salah seorang anggota FMN untuk menyisir kawasan tersebut untuk mencari keberadaan kawan Fachri, setelah dilakukan penyisiran pada pukul 1:15, Fachri tidak juga ditemukan.

Selain Fachri, terdapat kawan kami yang berasal dari Universitas Surakarta, Solo, bernama Arifin. Saat itu Arifin dan kawan-kawan lainnya sedang piket jaga di Asrama Papua jika terjadi apa-apa terhadap kawan-kawan Papua, mengingat tingginya intensitas persekusi terhadap mahassiswa Papua Surabaya di dalam dua tahun terakhir. Arifin diculik selang beberapa saat Fachri diculik. Hingga saat ini, keberadaan Arifin belum bisa di konfirmasi

Kemudian, kami segera mengonfirmasi kepada pihak pengacara dari kawan Papua yang juga ikut bersama mahasiswa Papua untuk memberikan pembelaan di Polrestabes Surabaya, namun hasilnya nihil, pihak pengacara pun tidak diberi keluwesan untuk mencari kawan kami yang masih belum ditemukan. Hingga saat ini, kami terus berupaya menghubungi keluarga dari kawan Fachri dan menjelaskan secara detil tentang kejadian yang menimpanya.

Tindakan persekusi dan penangkapan terhadap kawan-kawan mahasiswa Papua dan kawan kami, Fachri, dan Arifin, kami yakini diperintahkan secara sistematis karena tidak hanya terjadi di Surabaya tetapi juga terjadi di kota-kota lain seperti Kupang dan Manado. Dengan ini kami, Front Mahasiswa Nasional:

1. MENUNTUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNTUK MEMERINTAHKAN KAPOLRI UNTUK MEMBEBASKAN SELURUH MAHASISWA PAPUA YANG DITANGKAP TANPA TERKECUALI
2. MENUNTUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNTUK MENGHENTIKAN SEGALA PERSEKUSI DAN INTIMIDASI TERHADAP MAHASISWA DAN MASYARAKAT PAPUA
3. MENUNTUT PRESIDEN UNTUK SEGERA MEMERINTAHKAN KAPOLRI UNTUK MENEMUKAN DAN MENGEMBALIKAN DUA KAWAN KAMI, ARIFIN, DAN FACHRI SESEGERA MUNGKIN KEPADA KELUARGANYA.

Surabaya, 2 Desember 2018
Azizul Amri
Ketua FMN Cabang Surabaya




Goo koteka

GOO KOTEKA Adalah Aktivis Hak Asasi Manusia yang Khusus Memperjuangkan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua. Melalui web ini ingin Mengaspirasikan Penderitaan Rakyat dibawah Penjajahan Kolonialisme,Kapitalisme dan Militerisme. FREEDOM WEST PAPUA.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top