ads

Nasional

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5



            kaum muda papua ini disebut rakyat papua nekad dengan perjuangan kemerdekaannya, tetapi kami ingin menyebutnya mahasiswa pejuang kemerdekaan”. Mereka adalah kaum muda west papua yang potensial, yang memperjuangkan kemerekaan bangsanya hingga titik darah penghabisan. Kebanyakan dari kami adalah yang sudah kehilangan sanak saudaranya: ayah, ibu, anak, keponakan, tante, om, nenek, dan lainnya. Juga kami yang sudah kehilangan gunung dan hutan kami akibat dieksploitasi penjajah. Singkatnya, kami yang sudah “merasakan” betapa jahatnya pendudukan militer dan pemerintah Indonesia, dan kapitalis yang menjajah dan menguras alam west papua . 
kaum muda papua ini tidak peduli dengan segala “kebaikan hati” penjajah; Otonomi Khusus otsus plus,UP4B,Pemekaran wilayah,kabupaten dan Propinsi. Justru itu menambah rasa nasionalismenya. kami juga tidak perduli dengan berapa jumlah rakyat papua  yang telah “dijinakan” oleh penjajah indonesia. Yang mereka pikirkan dan perjuangkan adalah bagaimana mengakhiri penjajahan dan merebut kemerdekaan west papua dari tangan penjajah.
             kaum muda papua ini tidak tanggung-tanggung untuk mengorbankan apa saja bagi perjuangan kemerdekaan west papua; berupa uang, benda, waktu, tenaga, bahkan sampai nyawa. kami jugalah yang selalu jalan dari rumah kost ke rumah kost, asrama ke asrama di tanah Jawa, Bali, Sulawasi maupun di west papua untuk mengumpulkan pakaian bekas, botol bekas, dan koran bekas untuk dijual hanya sekedar untuk kepentingan dana aksi demonstrasi. kami juga yang sering pelarian kereta api dari Yogyakarta, Surabaya, Malang, Semarang, Solo, Salatiga, Jember, dan Bandung untuk ke Jakarta hanya untuk kepentingan aksi demostrasi. kami jugalah yang selalu bolos kuliah, bahkan tinggalkan kuliah untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan west papua, sehingga harus kuliah bertahun-tahun. Lamanya waktu studi kami ini tidak sama dengan lamanya waktu studi mahasiswa “pengemis” yang mendapatkan beasiswa dari PT Freeport Indonesia. Mahasiswa penerima beasiswa PT Freeport berkuliah lama karena senang menjadi “hamba” kapitalis, sang setan internasional itu.
Kaum mudah  pejuang kemerdekaan juga tidak jarang untuk meneteskan air mata ketika mendengar duka nestapa rakyat west papua akibat penjajahan kolonial. Mereka juga sering duduk menangis karena merasa beratnya pikulan beban perjuangan yang mereka embani. Tetapi (hebat) tidak pernah ada kata “menyerah” bagi kami. kami juga tidak pernah merasa malu dengan perjuangan kami walaupun banyak ditertawakan, soalnya rasa dan cita-cita hidup merdeka yang melekat pada dirinya sangat melebihi rasa malu dalam perjuangannya.
Nasionalisme west papua yang sangat matang mendorong mereka untuk teruslah berjuang. Makanya, kami menciptakan kata-kata seperti “berjuang sampai titik darah penghabisan”, “kami adalah pejalan kaki yang lambat, tetapi tidak pernah berjalan mundur”, “persatuan tanpa batas, perjuangan sampai menang” (moto Front PEPERA-Papua Barat), dan meniru kata-kata seperti patria o muerte (tanah air atau mati), morir por la patria es vivir (demi tanah air, mati berarti hidup), dan kutipan kata-kalain lainnya. Kata-kata ini sangat akrab dengan perjuangan kami, bahkan menjadi nyawa perjuangan dalam merebut kemerdekaan west papua. Banyak upaya “penjinakan” yang dilakukan oleh musuh perjuangannya; tawaran uang, jabatan, pekerjaan, bahkan sampai diteror, di intimidasi, dimata-matai, dan lainnya tetapi mereka tetap pada pendirian kami bahwa “west papua harus merdeka”, apapun konsekwensinya.
Sumber catatan sem karoba,
Oleh Goo_Koteka_Che

Goo koteka

GOO KOTEKA Adalah Aktivis Hak Asasi Manusia yang Khusus Memperjuangkan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua. Melalui web ini ingin Mengaspirasikan Penderitaan Rakyat dibawah Penjajahan Kolonialisme,Kapitalisme dan Militerisme. FREEDOM WEST PAPUA.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top