ads

Nasional

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5



Situasi papua dewasa ini, di sisi lain hal itu menunjukkan adanya proses modernitas di papua. Apalagi mereka yang datang ke papua merasa dan beranggapan bahwa mereka jauh lebih mampu dan mengerti daripada masyarakat asli papua.tentu saja hal itu salah.
Arus industrialisasi yang salahsatu di motori oleh PT.Freeport indonesia justru menimbulkan banyak korban. Selain nyawa, ada banyak korban tak kasatmata yang jumlahnya tidak dapat di hitung seperti pendakalang sungai, rusaknya ekosistem pantai berdampak pada terganggunya pola hidup masyarakat kamoro, warga sipil papua yang penghuni pesisir mimika hingga meluasnya infeksi karena HIV/Aids. Tidak hanya itu,perubahan seiring hadirnya perusahan tambang tersebut turut memporak-porandakan kehidupan sosial komunitas warga sipil papua.
Berlimpahnya miliaran uang rupiah membuat sebagian besar warga sipil papua tergantung. Mereka enggan untuk berkebun atau menolok sagu. Sebagian warga sipil papua menjadi malas dan semata-mata mengharapkan limpahan miliaran dana yang di berikan perusahan tambang itu, menghabiskannya cepat dalam gaya hidup yang tidak produktif.
Ekspansi yang sedemikian dasyatnya baik dalam ranah kapitalisme, kultural dan politik halus dari luar papua telah membuat sebagian besar warga sipil papua berubah dan kemudian termarginalisasikan diatas tanah leluhurnya sendiri.
Dengan segala kekayaan yang dimiliki papua memang layak disebut sebagai masa depan, namun jika sunggu hadir di sana,masa depan itu seolah jauh sekali.
Dalam buku itu Bruder Theo Van Den Broek OFM mengungkapkan,ekspansi besar-besaran kepapua baik melalui migrasi sangat terasa di daerah perkotaan. Para pendatang itu cenderung untuk menetap di daerah-daerah di mana terdapat peluangekonomi nyata.
Berbekal pengalaman dan jaringan,mereka rebut sumber-sumber ekonomi di perkotaan yang kemudian berdampak pada akses lain seperti pendidikan,kesehatan dan lapangan kerja. Terjadi persaingan sengit untuk merebutkan peluang-peluang ekonomi yang jumlahnya terbatas. Tentu saja dalam persaingan itu ada pihak yang menang dan ada pihak yang kalah. Dari yang kalah itu lalu muncul kelompok marginal. Persaingan yang demikian ketat hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang telah di bekali pendidikan, keterampilan dan keterbukaan budaya untuk mampu bersaing.
Ketika kita patut di akui juga bahwa ekspansi kapital, kultural dan politik yang datang dari luar papua memang mengubah wajah wilayah itu. Namun, perubahan telah menyebabkan umumnya warga sipil papua di hadapkan pada persaingan yang tidak seimbang dengan para pendatang.
Kebijakan-kebijakan afirmatif dalam berbagai bidang khususnya politik,ekonomi dan sosial budaya ternyata belum di dukung oleh prasarana dan insfratruktur memadai. Selain itu, belum adanya perda,perdasus dan perdasi membuat implementasi Otsus tidak optimal karena dana yang jumlah triliunan rupiah tidak terkelola baik dan diduga korupsi.
Hal itu menyebabkan, persepsi warga sipil papua menjadi buruk. Akibatnya, stigmatisasi terhadap warga sipil papua terus terjadi dan menyebabkan kita terus menyalami ketidakadilan sosial,ekonomi dan budaya serta politik.

Penulis Goo Koteka Aktivis Papua,Mahasiswa Papua kuliah di jawa.

Goo koteka

GOO KOTEKA Adalah Aktivis Hak Asasi Manusia yang Khusus Memperjuangkan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua. Melalui web ini ingin Mengaspirasikan Penderitaan Rakyat dibawah Penjajahan Kolonialisme,Kapitalisme dan Militerisme. FREEDOM WEST PAPUA.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top