ads

Nasional

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5



Goo Koteka
Sumber-sumber sejarah membuktikan, bahwa Tanah Papua menjadi fokus perebutan antara belanda dan Indonesia sejak 1945 sampai 1960. Kedua Negara tersebut meningkatkan standar politiknya untuk memperlihatkan pola pandang politiknya yang berbeda melalui berbagai pendekatan dan tujuan politik tertentu.
Dalam perspektif tersebut dapat dirumuskan secara singkat, bahwa Indonesia meningkatkan kegiatan politiknya untuk merebut Tanah Papua dari belanda, sebaliknya belanda mempersiapkan Papua menjadi Negara Merdeka. Dampak langsung dari kegiatan politik kedua pihak adalah Orang Asli Papua menjadi korban. Orang Asli Papua menjadi korban karena aktor utama politik yang berkembang dimainkan oleh belanda dan Indonesia.
Sejak tahun 1960 sampai pada masa  sekarang, sesuatu yang dianggap  bermasalah adalah belanda lebih dahulu berhasil mempersiapkan kemerdekaan dan berhasil mengumandangkan kemerekaan papua barat pada tanggal 01 desember 1961 di Hollandia, tempatnya dijalan irian, di halaman gedung yang disebut  Nieuw Guinea Raad. Sebaliknya, Negara Indonesia melakukan perpanjangan panjang keamerika dan uni soviet sehingga terlambat masuk ketanah papua barat hanya bias dengan pengunaan kekuatan dan invasi militer penuh sejak tanggal 19 desember 1961 melalui maklumat Tri komando Rakyat (TRIKORA) yang di komandangkan di jogyakarta untuk mengagalkan kemerdekaan papua barat.
Selanjutnya, dalam dua tahun saja, yaitu 1962 dan 1963 terjadi proses-proses politik yang bertujuan menganeksasi kemerdekaan papua barat melalui lobi-lobi poitik tingkat tinggi antara amerika serikat,belanda, dan Indonesia. Proses politik yang di masudkan itu adalahTriora,Bunker proposal, perjanjian New York Agreement, Roma Agreement (perjanjian ini diragukan keberadaanya), dan akhirnya Act of free choice.
Intervensi dan maneuver politik Indonesia terhadap orang asli papua sebagai objeknya selalu di posisikan sebagai korban yang pasif dalam berbagai urusan yang dipadang penting, bahkan Indonesia melancarkan berbagai teror,intimidasi, penangkapan,kekerasaan,  penbunuhan dan berbagai manipulasi social politiknya.
Oleh karena alasan sejarah politik tersebut diatas, timbul memoria passionis  yang kuat dalam benak orang asli papua begitu biadab dan sangat tidak manusiawi, ditambah lagi belum pernah dilaksanankan rekonsiliasi dan penungkapan kebenaran terhadap semua pelangaran hak asasi manusia di tanah papua.
Walaupun kondisinya demikian berat karena tekanan berbagai kekuatan yang di bangun Indonesia terhadap orang asli papua, namun Roh Kemerdekaan papua barat tanggal 1 Desember 1961 selalu membakar orang asli papua untuk berjuang melepaskan diri dari ikatan belenggu kekuatan republic Indonesia. Akhir-akhir ini Roh kemerdekaan itu sudah menjadi ideologi yang sangat tidak mungkin untuk dihapus oleh berbagai aliran lembar-lembar uang rupiah. Orang asli papua berkeinginan mutlak untuk bebas secara politik dan hokum dari republik Indonesia menjadi republic papua barat.
Yamee owa Asrama Paniai,Jogyakarta 4 september 2014
OlehYesaya Koteka Goo

Goo koteka

GOO KOTEKA Adalah Aktivis Hak Asasi Manusia yang Khusus Memperjuangkan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua. Melalui web ini ingin Mengaspirasikan Penderitaan Rakyat dibawah Penjajahan Kolonialisme,Kapitalisme dan Militerisme. FREEDOM WEST PAPUA.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top