ads

Nasional

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

warga sipil dogiyai korban miras
Korban Miras di Dogiyai adalah Korban Lanjutan dari Korban sebelumnya yang menelan banyak pengguna Miras karena korban itu terus terjadi di Dogiyai maka Kasus Korban itu terbiasa sehingga semua Orang anggap Biasa. Karena Orang anggap Biasa maka selalu setiap orang menyatakan biarkan saja di mati karena dia minum, Okai Gatai Pagi, kata kata itu yang selalu keluar dari semua Pihak. Padahal kata kata itu muncul pada Pengguna sementara kita itu Melindungi Mati para Produksi dan Distribusi Miras. Dengan demikian semua Pihak Membiarkan Miras itu bertumbuh diantara kita.
 Proses Pembiaran itu terus terjadi dengan memberikan peluang besar kepada Produksi dan Distribusi Miras Beralkohol itu bertumbuh subur karena tidak seorangpun yang kritik.

Semua orang takut Kritik Miras karena kita dibiasakan dengan Nasehat "HATI HATI", Kata Hati Hati ini mematikan Karakter Berpikir kita, sebab kita selalu diberitahu bhw Hati Hati ya ini Polusi dan TNI punya Jaringan jadi kalau engkau bertindak maka Tarohan Nyawa jadi, masih lagi orang Bilang Hati Hati ya ini Jaringan Berantai jadi. Kata Hati Hati justru mematikan Karakter Bertindak Kritis sehingga dengan pegang teguh kata Hati Hati semua Pihak takut untuk mengkritik akhirnya yang ada Proses Pembiaran dari semua Pihak sehingga seolah olah kita sendirilah jadi Tim Sukses Pemusnahan OAP di Dogiyai.

Bagiku Proses Pembiaran dari semua Pihak adalah:
1. Masyarakat dan Pemuda.
Paradigma berpikir Rakyat yang memvonis mati pada Pengguna Miras itu dgn kata "Biarkan dia Mati karena dia Pemiras" membuat semua masyarakat itu biasa dan membiarkan nyawa itu korban terus. Padahal di sisi lain dan Kunci Keselamatan Pribadi kita itu Kita tidak Sentuh Alkohol atau sadar diri untuk tidak minum Minuman Keras Beralkohol. Tetapi kita juga harus kritis penjual dan Pengedar Miras Beralkohol itu jangan kita hanya tegur Penggunanya.

2. Pemda Dogiyai
Pemda Dogiyai tidak mampu Menangkap dan menterjemahkan Perda Propinsi Papua Nomor 13 Tahun 2015 tentang Produksi, Distribusi dan Konsumsi Minuman Keras Beralkohol dan Minuman Lokal, Serta Pakta integritas Gubernur Papua serta Intruksi Gubernur Nomor 03/Ins-Gub/2016 tentang Pendataan OAP dan Larangan Produksi, Distribusi Miras Beralkohol sehingga Pemda Dogiyai itu biasa biasa saja. Ada beberapa hal yang Pemda Gagal dalam Menangani Miras adalah:
  1. DPRD Dogiyai periode I katanya telah menetapkan Perda Miras tanpa Konsultasi Publik, Uji Akademik dan Uji Kelayakan itu langsung menetapkan Perdanya sehingga sampai saat ini Pejabat Eksekutif tidak mensosialisasikan Perda itu dan DPRD juga tida mengawasi Perda tersebut singkatnya DPRD tahu melahirkan anak tetapi tidak tahu merawat dan mengawasinya.
  2. Tahun Lalu Pemda sempat tegur dan kejar kami Pelaksana Aturan Kampung di Mauwa, Kamuu Utara, dll untuk memberhentikan aturan kampung tentang Larangan Mirasnya sehingga Pemda telah membentuk Komisi Pemberantasan Minuman Keras Beralkohol pada 06 Maret 2016 lalu dengan anggaran yang besar tetapi sampai saat ini Komisi ini tidak kerja satu pun.
  3. Pembiaran Transmigrasi Liar ke Dogiyai tidak terus membludak dan bertambah sementara Kependudukan itu memudahkan mereka untuk urus KTP Dogiyai dan tidak pernah memeriksa KTP Dogiyai padahal Penjual yang selama ini dapat tahan adalah Pendatang yang belum memiliki KTP Dogiyai.
  4. Dalam Musyawarah Kampung (Muskam), Musyawarah Distrik (Musdis) dan Musrenbang itu hanya ada Pengadaan ATK saja sementara sama Pemberantasan Mirasnys tidak pernah akomodir. 5). Disperingdakop juga harus cek Kios Kios Yang jual Miras itu apa ada surat Ijin atau tidak, kalau tidak ada kenapa membiarkan Miras itu berjalan terus di Dogiyai. Dari keempat Point itu yang membuat Pemda Dogiyai itu gagal total berantas Miras.
3. Keamanan Polisi, Brimob, Patgas dan TNI.
Jalan menuju Dogiyai itu hanya ada dua Jalan Darat dan Udara. Setiap kali Mobil datang ke Dogiyai itu selalu diperiksa di Mapolsek oleh Anggota Polsek sedangkan setiap kali Pesawat datang ke Moanemani Patgas selalu Periksa Barang di Bandara tetapi kok Alkohol ini selalu saja tiba di Dogiyai dan lolos dari Pemeriksaan Polisi dan Patgas itu Aneh sementara di Dogiyai tidak punya Pabrik dan Milo Miras di Dogiyai. Sementara Alkohol itu jual ke Pemuda dengan Menggunakan Mobil Pejabat yang selalu setiap malam parkir di Patgas dan Polisi.

Akhirnya Pemberantasan Miras Beralkohol itu menjadi Tugas dan Tanggung Jawab kita semua dan Kunci Keselamatan Pribadi kita adalah kita sadar untuk tidak boleh Minum Minuman Keras Beralkohol.

Kordinator Umum Solidaritas Rakyat Peduli Budaya Mee (SPRBM)
Benediktus Goo

Goo koteka

GOO KOTEKA Adalah Aktivis Hak Asasi Manusia yang Khusus Memperjuangkan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua. Melalui web ini ingin Mengaspirasikan Penderitaan Rakyat dibawah Penjajahan Kolonialisme,Kapitalisme dan Militerisme. FREEDOM WEST PAPUA.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top