ads

Nasional

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

hari ini,15 Agustus 2016, rakyat Papua melakukan aksi protes terkait perjanjian ilegal New Yowk ( New York Agreement) sebagai perjanjian gelap dan tersembunyi yang dibuat oleh pemerintah RI dan Pemerintah Belanda yang di prakarsai oleh A.S demi kepentinagn polikitk kekuasan dan kapitalisme di Papua barat. Perjanjian international terkait status politik bangsa Papua diatas
teritori west papua tersebut tidak ada se orang Papua pun yang dihadirkan atau menghadiri untuk ikut serta membuat keputusan bersama atas status politik Papua. Ironis memang, yang dipersengketahkan itu bangsa Papua dan teritori west Papua tetapi perwakilan bangsa Papua tidak dihadirkan pada perjanjian tersebut. Mengapa Bangsa Papua sebagai pemilik sah negeri Papua kok tidak dilibatkan dalam perjanjian new york 15 Agustus 1962 di Markas besar PBB. Kenapa Dewan Komite Nasional telah mempersiapkan perwakilan dalam pertemuan tersebut namun ditolak oleh Indonesia dan akhirnya membatalkan perjalanan dari jakarta lalu kembali ke Papua?
Melihat fakta sejarah yang tidak berdasarkan pada penghormatan terhadap hak, harkat dan martabat kebangsaan bagi bangsa Papua tersebut, kami komponen bangsa papua barat mendesak kepada Pemerintah Indonesia, Pemerintah Amerika Serikat, dan Belanda segarah bertanggungjawab atas perjanjian ilegal itu.
Perjanjian New York adalah awal terjadinya pelanggaran HAM Papua, sejak saat itu hingga hari ini, kami rakyat bangsa Papua diperlakukan seperti binatang secara biadap. Hak kami diperkosa, martabat kami dirusak, kami hidup dibawah tekanan pemerintah Indonesia, Militer dan Polisi. Kami disebut sebagai manusia monyet, binatang, harimau dan lain - lain.
melihat dari fakta - fakta sejarah dan kenyataan hidup rakyat bangsa Papua, maka kami bangsa Papua dari sorong sampai merauke mendesak:
1. Kepada Pemerintah RI
2. Kepada Pemerintah Amerika,
3. Kepada Pemerintah Belanda
4. Kepada Dewan HAM PBB
5. Kepada masyarakat Dunia International
Pertama, untuk segerah mengakui secara jujur, adil dan dapat bertanggungjawab kebiadaban yang dibuat oleh oknum- oknum diatas dan membuka kembali sejarah pencaplokan dan aneksasi Papua dan dimasukan secara paksa kepada Indonesia.
Kedua, Memberikan Kesempatan untuk penentuan nasib sendiri bangsa Papua agar merdeka dan berdaulat diatas bumi papua barat
ketiga, kami mendesak kepada komunitas International untuk menekan pemerinatah indonesia atas berbagai pelanggaran HAM yang dilakukan di Papua oleh militer dan polisi Indonesia. pelanggaran HAM di Papua telah berlangsung sejak 1 Mei 1963 hingga 2016, Mengingat, pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia telah berlansung dari tahun 1963 hingga 2016. dengan masa waktu yang lama tersebut, militer dan polisi Indonesia telah membunuh 600.000 orang asli Papua, merampas tanah milik masyarat adat, mengambil kekayaan Papua dan merusak lingkungan Papua secara menyeluruh, pencurian kayu, pencurian ikan, dan lain - lain.
selain itu, Orang Indonesia menganggap orang Papua adalah manusia bodok, primitif, tukang pencuri, tukang mabuk, dan lain - lain yang merupakan cara dan sifat penjajahan untuk membunuh dan mematikan karakter bangsa Papua sebagai manusia yang mulia seperti pencipta sendiri.
Kami meminta Hak politik kami agar bangsa Papua merdeka dan berdaulat.
kami bangsa Papua mengutuk keras ke pemerintah Indonesia atas segalah bentuk kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAK ASASI MANUSIA PAPUA.
Berharap bangsa Papua , Tanggal 15 agustus 2016 Akhir Dari segalah Bentuk penindasan Dan Mencari Solusi menujuh Perdamaian Yang Aman , Damai Dan Abadi Bagi Umat Tuhan di Papua Sesuai DENGAN Apa Yang diharapkan Oleh Tuhan Yang Maha Pencipta Bagi Papua/

Goo koteka

GOO KOTEKA Adalah Aktivis Hak Asasi Manusia yang Khusus Memperjuangkan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua. Melalui web ini ingin Mengaspirasikan Penderitaan Rakyat dibawah Penjajahan Kolonialisme,Kapitalisme dan Militerisme. FREEDOM WEST PAPUA.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top