ads

Nasional

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5



FARC
foto doc:perang gerilya!!
 
Pada tanggal 8 Juni 2008, dalam acara rutinnya :”Alo , Presidente”, Chavez, yang sejak tahun 1999, memangku jabatan sebagai Presiden Venezuela, dikenal sebagai seorang Presiden kiri dengan kritik-kritik yang pedas terhadap Pemerintah Bush , lebih-lebih setelah rakyat berhasil menggagalkan kudeta kaum reaksioner dengan dukungan sepenuhnya Pemerintah imperialis Amerika Serikat pada bulan April 2002, dengan tak terduga mengemukakan seruan kepada FARC (Fuerza Armada Revolucionaria de Colombia) untuk meninggalkan perang gerilya yang ia anggap “di Amerika Latin sudah masuk sejarah”, meminta kepada Alfonso Cano, pemimpin FARC yang menggantikan Manuel Marulanda yang meninggal tanggal 26 Mei 2007, supaya “membebaskan semua tahanannya tanpa minta apa-apa sebagai gantinya”.

Pada tanggal 20 Agustus 2007 di Caracas, Chavez menerima Piedad Cordoba, senator Partai Liberal Kolombia, bersama satu grup keluarga dari tawanan perang yang ditahan oleh FARC. Dalam pembicaraan itu pihak Kolombia minta supaya Chavez membantu usaha mencapai persetujuan untuk membebaskan tahanan perang yang ada ditangan FARC dan ratusan gerilya yang meringkuk di penjara-penjara Kolombia. Sejak itu Chavez memulai peranannya sebagai mediator antara FARC dan Pemerintah Kolombia dan selanjutnya terjadi pembicaraan dengan kedua belah pihak, wakil dari FARC dan presiden Kolombia. Baik Pemerintah Kolombia maupun FARC menyetujui dan mendukung usaha senator Piedad Cordoba dan Chavez.

Untuk menjamin keselamatan semua pihak yang terlibat dalam perundingan untuk mencapai persetujuan pertukaran tahanan, langkah pertama yang mungkin dapat diteruskan menuju satu perundingan perdamaian antara FARC dan pemerintah Kolombia, FARC menuntut adanya satu daerah bebas militer selama 45 hari yang tidak dapat diperpanjang. Tetapi presiden Uribe menolak mentah-mentah tuntutan itu.

Kontak-kontak intensif antara FARC dan Piedad Cordoba dan Chavez melahirkan berbagai macam rencana pertemuan antara Chavez dengan pimpinan utama FARC, Alfonso Cano dan juga pertemuan antara FARC dengan presiden Perancis Sarkozi yang menempatkan pembebasan Ingrid Betancourt, calon presiden Kolombia dalam kampanye pemilihan presiden 2002, dan warganegara Perancis melalui perkawinannya dulu dengan seorang warga negara Perancis, sebagai salah satu prioritas dalam politik luar negerinya. Kemajuan dan titik-titik terang dalam proses mencari jalan keluar terhadap konflik tahanan politik ini sangat tidak menguntungkan posisi presiden Kolombia yang melihat kedudukan dan kewibawaannya semakin merosot.

Dengan secara tiba-tiba , awal Desember 2007, presiden Uribe menyatakan bahwa ia tidak mengakui lagi peranan mediator Chavez dan Piedad Cordoba. Sangat jelas tindakan ini merupakan sabotase terhadap usaha pertukaran kemanusiaan yang sudah menunjukan kemajuan. Sebagai kompensasi terhadap Chavez dan Piedad Cordoba yang telah diperlakukan dengat sangat tidak hormat oleh Uribe, FARC mengumumkan akan membebaskan secara sepihak dua tahanan perang: Clara Rojas, mantan calon wakil presiden yang mendampingi Ingrid Betancourt dalam kampanye pemilihan presiden 2002 dan anak laki-lakinya yang lahir dari hubungannya dengan seorang gerilya, dan Consuelo Perdomo, anggota Parlemen Kolombia dan menyerahkannya kepada Chavez.

Usaha pertama dalam penyerahan kedua tahanan itu berhasil digagalkan oleh tentara Kolombia yang dikerahkan untuk menyerang gerilya yang bertugas melakukan pembebasan itu. Baru pada tanggal 10 Januari 2008 FARC mengumumkan keberhasilannya dalam menyerahkan kedua tawanan perang yang sudah dijanjikannya.

Pada tanggal 3 Februari 2008, FARC mengumumkan lagi pembebasan tiga tawanan perang sebagai penghargaan terhadap Chavez dan Piedad Cordoba yang gigih berusaha mencapai pertukaran kemanusiaan.

Sepanjang proses usaha ini Chavez secara terang-terangan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengecam dengan keras sikap Uribe yang dianggapnya antek Imperialis Amerika.

Sedangkan dalam hubungannya dengan FARC, Chavez menghimbau opini umum dunia untuk mengakui status belligerent FARC karena menurut pandangannya, FARC bukanlah satu grup narco-teroris seperti apa yang dipropagandakan oleh media komunikasi milik negara-negara Imperialis.

Dengan latar belakang seperti inilah, pernyatan Chavez tanggal 8 Juni 2008 itu sama sekali tidak dapat dimengerti dan sangat mengejutkan kaum intelektual dan kaum kiri internasional yang selama ini berada di pihak Chavez dan proses reformasi yang ia pimpin di Venezuela. Sebaliknya pernyataan itu sangat disambut dan menggembirakan mereka yang selalu memusuhinya. Reaksi mengalir dari segenap penjuru: Amerika Serikat, Mexico, Swedia, Republik Dominika, Kuba, Peru, Kolombia dan Venezuela sendiri.

Sebagai bahan pertimbangan, dibawah ini kami sajikan tulisan dari Mexico, Amerika Serikat, Republik Dominika dan Kuba. Pedro Echeverria adalah seorang wartawan dan intelektual kiri dari Mexico, pendukung proses reformasi Venezuela. James Petra adalah mantan guru sosiologi Universitas Binghamton, di New York, tokoh akademis kiri terkenal di Amerika Serikat, spesialis dalam masalah-masalah Amerika Latin, penulis ratusan artikel dan puluhan buku yang diterjemahkan dalam 29 bahasa, dan bukunya yang terakhir berjudul “The Power of Israel in The United States”.

Narciso Isa Conde adalah seorang politikus, wartawan, penulis esai, Sekretaris Jenderal ad vitam dari Partai Komunis Dominika, yang kemudian berfusi dengan organisasi-organisasi kiri lainnya menjadi “Arco Iris Opositor” (Pelangi Oposisi), dan akhirnya menjadi “Fuerza Caamanista” ( Keteguhan/Kekuatan Caamano), dan dianggap sebagai Pemimpin Kaum Kiri Dominika, dan sangat aktif mendukung proses reformasi Venezuela.

Celia Hart adalah putri Armando Hart, yang bersama Fidel Castro, sejak muda sudah terlibat dalam gerakan revolusioner untuk menjatuhkan kediktatoran Batista, setelah Revolusi menang menjabat Menteri Kebudayaan Kuba selama 20 tahun. Ibunya Celia Hart adalah Haydee Santa Maria, pahlawan wanita dalam penyerangan barak tentara Moncada dimana ia kehilangan kakak laki-laki dan tunangannya.

SUSANA PEREZ

PERANG GERILYA BUKANLAH SATU MODE MELAINKAN SATU JAWABAN KEPADA PENINDASAN DAN TERTUTUPNYA PINTU POLITIK

Oleh: Pedro Echeverria V

1. Tak masuk akal! Apakah Chavez menjadi putus asa, kehilangan harapan ataukah orang lain meniru suaranya supaya sarana komunikasi dunia yang mengabdi imperium Yankee mengumumkan pernyataannya dengan penuh kegembiraan? Sudah jelas FARC dan gerakan gerilya lainnya didunia tidak akan memperdulikan seruan yang kelihatannya dibuat pada hari minggu dan ditujukan kepada kaum gerilya Kolombia supaya membebaskan tahanannya “tanpa minta ganti apa-apa”; disamping itu ia berkata :” perang gerilya sudah masuk sejarah…dan kalian FARC harus tahu bahwa kalian menjadi satu alasan yang dipakai oleh Imperium (Pemerintah Amerika Serikat) untuk mengancam kita semua”. Chavez menerima tepuk tangan dari Pemerintah yang mengabdi kepada Amerika Serikat, dan disamping itu, sekarang ia dituntut untuk memenuhi kata-katanya itu . Langkah selanjutnya dari anjing-anjing jaga Imperium adalah minta kepadanya untuk melikwidasi kaum “teroris”, para pejuang radikal dan kaum yang berontak. Saya masih belum bisa percaya.

2. Hugo Chavez tahu betul bahwa Yankee tidak perlu alasan apapun untuk mengancam. Pemerintah Amerika Serikat mengancam dan menundukan siapa saja yang ia kehendaki. Bush membagi dunia dalam teroris dan sekutu. Dia menyerang Afghanistan, karena, menurut dia, disitu bersembunyi Bin Laden. Kemudian menyerang Irak dengan argumentasi ia menyembunyikan senjata pemusnahan besar-besaran, tetapi ahli yang dikirim oleh PBB menyatakan tidak ada senjata itu. Chavez tahu Amerika Serikat tidak memerlukan alasan apapun karena sudah sejak beberapa tahun yang lalu ia memilih negeri-negeri yang, menurut kriterianya, masuk dalam “sumbu/as setan” dan dengan demikian dimulailah agresi terhadap negeri negeri itu dan negeri tetangganya. Saat Amerika mengambil langkah itu, alasannya bisa bertumpuk. Selama puluhan tahun Amerika berkali-kali mengatakan bahwa intervensi bersenjatanya adalah untuk mendukung kepentingan warganegaranya dan melindungi investasinya. Tak seorangpun lebih tahu akan hal itu kecuali Chavez sendiri, maka itu saya menjadi heran akan posisinya itu sampai-sampai saya meragukan apakah memang betul dia itu yang berkata begitu.

3. Aliran kiri mana yang dapat membantah atau meragukan peranan yang sangat besar sekali yang dimainkan oleh Chavez selama delapan tahun terakhir ini di Venezuela dan merika Latin dihadapan Pemerintah perampok dan pembunuh Bush? Apa lagi, sampai disimpulkan bahwa ia adalah murid unggul yang mewarisi perjuangan anti imperialis Fidel Castro di Benua ini. Jadi apa yang terjadi dalam kepala Chavez atau dalam kepala para penasehatnya ketika berpikir bahwa keadaan politik di Venezuela adalah sama dengan Mexico, Haiti, Guatemala, San Salvador atau Kolombia? Di Mexico, ketika terjadi perubahan semacam ini yang tak sesuai dengan waktunya , atau satu perubahan yang tidak kita sadari, kita bertanya: ” kamu merokok apa?” atau kita mengingatkannya: “kamu kencing diluar pispot”. Chavez tahu betul bahwa perang gerilya dan bentuk bentuk perjuangan lain seperti gerakan massa, pemogokan umum, piketpiket untuk memblokir jalan raya dan lapangan dan pertempuran lainnya dari kaum terhisap tidak bisa dianggap sudah diluar jaman.


4. Kaum pengusaha besar dan Pemerintah, diseluruh dunia ingin mengontrol semuanya: memonopoli ekonomi, politik, kekayaan,, kebudayaan, begitulah selama berabad-abad, walaupun ada perlawanan dan protes yang lemah. Klas sosial yang berdominasi terpaksa mundur, memberi konsesi, melakukan reforma agraria, reforma perburuhan dan reforma dalam pemilu, hanya karena tekanan dari perjuangan kaum pekerja. Sekarang ini, barangkali hanya 20% dari negerinegeri didunia, terutama di Eropa, disebabkan karena perjuangan yang sudah berlangsung berabad-abad, klas borjuis terpaksa harus “pandai” untuk menghormati perjuangan legal dari kaum oposisi; tetapi di 80% dari negerinegeri didunia, penindasan terhadap kaum pekerja adalah sesuatu yang terbuka dan brutal. Termasuk di negeri seperti Mexico dimana proses pemilihan umum sudah ditegakan sejak tahun 1824, namun 70% dari penduduk masih hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan. Cukup dengan satu data ini untuk menunjukan tingkat penghisapan dan penindasan yang diderita oleh penduduk.

5. Perang gerilya di Amerika Latin tidak dapat dikatakan ketinggalan jaman karena keadaan ekonomi dan politik di benua ini yang merugikan mayoritas penduduk, masih terus ada. Terjadi perubahan-perubahan yang sangat besar di kota-kota, teknologi berkembang tanpa batas, jumlah mobil di kota-kota berlipat ganda, 80% dari penduduk punya televisi, tetapi bagi kaum terhisap dan tertindas, bagi jutaan penganggur dan mereka yang tersisihkan selalu, sepertinya abad tidak pernah berganti. Untuk menarik keuntungan dan meneruskan keadaan ini, kaum borjuis telah menghadapi oposisi dan protes yang kecil sekalipun dengan kekejaman. Kalau Chavez tidak menggunakan kekerasan, atau kekerasan sampai tingkat tertentu, Venezuela akan diperintah oleh partai-partai borjuis tradisional, sarana informasi akan terus menggoblok-goblokan penduduk dan Yankee akan terus merampok sumber alam.

6. Apa yang harus dilakukan oleh FARC dihadapan satu Pemerintah yang terangterangan membunuh, seperti pemerintah Alvaro Uribe (didukung oleh Pemerintah Bush) yang pembomannya terhadap kamp-kamp gerilya agak dikendorkan oleh adanya tahanan yang dapat ditukar. Apakah kita lupa bahwa banyak dari orang-orang yang ditahan ini berkelakuan menentang rakyat dan merupakan mata uang yang dibutuhkan untuk ditukar dengan tahanan gerilya yang heroik yang ada ditangan Pemerintah? Dapat dimengerti rasa putus asa yang dialami Chavez dan tekanan dari keluarga para tahanan itu, tetapi perjuangan gerilya muncul 44 tahun yang lalu untuk berjuang demi kepentingan kaum terhisap dan kaum miskin, jadi ialah yang harus menentukan apa yang akan dilakukan. Chavez tidak boleh menggunakan prestisenya dan kekuasaannya untuk minta dihilangkannya perjuangan gerilya. Di Venezuela, Bolivia dan Ecuador barangkali tidak perlukan perang gerilya karena kaum miskinnya dan kaum tertindasnya sedang mengalami berlangsungnya satu Pemerintah yang memberi mereka ruang untuk memajukan tuntutan dan perjuangannya, tetapi di Mexico, Guatemala atau negeri-negeri lainnya tidak begitu keadaannya.

7. Di Mexico, gerakan gerilya selalu ada sepanjang sejarah. Selama jaman kolonial, gerilya Indian selalu ada. Perjuangan untuk kemerdekaan dimulai dengan satu pemberontakan, kemudian dilanjutkan dengan perlawanan gerilya. Agresi Yankee dan Eropa terhadap Mexico dalam abad XIX juga menghadapi gangguan-gangguan terus menerus dari gerilya heroik . Selama Pemerintah Porfirio dan Revolusi, gerilya memainkan peranan penting, barangkali lebih penting dari pada tentara reguler. Bagaimana dengan gerilya Mexico dari kota Madera (Chihuahua), gerilyanya Jenaro Vazquez dan Lucio Cabanas dari negara bagian Guerrero, gerilya kota tahun 70-an dan mengapa sekarang ada gerilya yang dipimpin oleh EPR? Tiap gerakan gerilya menjawab kepada satu keadaan kongkrit: ketidakadilan, kemelaratan, ketertutupan, penindasan, persekusi, ancaman dan keputus-asaan. Tak seorangpun dapat melenyapkan gerilya kalau tidak diubah hubungan sosial. Chavez tahu itu, oleh karena itu saya tidak percaya apa yang saya dengar.

JAMES PETRAS KECEWA

Wawancara Radio Centenario (Uruguay) dengan ahli sosiologi Amerika Serikat,
James Petra, mengenai pernyataan Hugo Chavez tentang FARC.

Churry :
“Selamat pagi, Petra, apa kabar?

Petras :
“Hari ini satu hari yang bagus dari segi udara dan cuaca tetapi kelihatannya bukan satu hari yang menggembirakan sehubungan dengan pernyataan terakhir dari Presiden Chavez.

Churry:
“Itu memang pertanyaan yang ingin saya ajukan…

Petra :
“Disini (maksudnya di Amerika Serikat), semua sarana media besar borjuis menganggap penting dan memihak kepada celaan dan tuduhan terhadap FARC dan tuntutan dan intervensi yang dilakukan oleh presiden Chavez, dan saya bayangkan hal itu sangat mengejutkan banyak orang disebabkan oleh keagresifannya dalam menjalankan politik itu.

Churry :
“Kongkritnya kalau saya menanyakannya kepada kamu, dari sini, dari sebelah selatan, tentang interpretasi yang diberikan oleh berbagai kanal informasi, orang bilang disini ada satu pertanyaan yang tak dapat dihindari , pertanyaan yang ditonjolkan oleh semua koran dan sarana press lainnya, yaitu bahwa Chavez minta kepada FARC untuk menyerahkan semua tawanan dan meletakan senjata tanpa minta ganti apa-apa dan bahwa keberadaan FARC merupakan sebab dari kehadiran imperialis di daerah ini. Saya tidak tahu apakah interpretasi seperti ini memang yang sebenarnya sesuai dengan…

Petra :
“Itu adalah Stalinisme, mengatakan bahwa satu grup yang sudah berontak selama 44 tahun merupakan alasan bagi kehadiran imperialis adalah satu kebodohan. Imperialisme berjalan dengan cukup baik di Venezuela tanpa membutuhkan adanya satu gerakan gerilya, kamu tahu itu harus dimengerti justru melalui peranan yang dimainkannya dalam kudeta tahun 2002 dan semua kebijaksanaan politiknya sejak saat itu dan hal itu juga berlaku di banyak tempat di dunia ini, tidak peduli pemerintahnya. Mengatakan perjuangan bersenjata FARC merupakan dalih atau alas an bagi imperialisme adalah betul-betul satu kebodohan; terpaksa harus saya katakan begitu. Dan masih ada satu hal lagi, Chavez tidak menjelaskan bagaimana FARC bisa menyerahkan tawanannya sementara 500 gerilya, dalam keadaan sakit, dengan makanan yang buruk sekali, disiksa dan membusuk di penjara-penjara bawah tanah dari Uribe. Pertanyaan saya adalah mengapa presiden Chavez ingin mengorbankan jiwa tawanan gerilya untuk mengibarkan bendera Uribe, Sarkozy dan yang lainnya; satu penyerahan total dan sepihak.

Pertanyaan yang kedua adalah apakah Chavez mengerti bahwa ketika gerilya FARC turun dari gunung untuk turut serta dalam perjuangan parlementer, mereka dibunuhi dan saya ingin bertanya apakah Chavez berani menjamin jiwa kaum gerilya yang mencoba masuk kedalam kehidupan politik legal elektoral dihadapan paramiliter dan militer yang minggu yang lalu terus membunuhi aktivis-aktivis buruh non gerilya. Ketiga, saya ingin tahu apakah yang diminta Chavez adalah supaya kaum gerilya meniru politik di Amerika Central, di San Salvador, Guatemala dan tempat lainnya lagi, dimana mereka menandatangani persetujuan damai dan meninggalkan perjuangan bersenjata. Hal itu samasekali tidak menghasilkan satu
perubahan apapun. Kemelaratan di San Salvador dan Guatemala sama seriusnya seperti dulu sehingga setengah dari penduduknya pergi ke Eropa, Amerika Serikat atau Mexico. Sementara itu proses perdamaian hanya memuaskan kaum borjuasi sedangkan tuntutan mayoritas besar penduduk tetap tak dipenuhi dan pengorbanan mereka sia-sia dan yang lebih buruk lagi adalah jumlah orang yang mati di San Salvador dan Guatemala sejak perjanjian damai lebih banyak dari jumlah yang mati selama perang gerilya. Artinya tiap tahun ada 8 atau 9000 pembunuhan di negeri-negeri itu karena mereka yang sudah didemobilisasi tidak mendapatkan pekerjaan, banyak diantara mereka yang masuk kedalam dunia kejahatan dan terjadi saling tembak antara berbagai geng. Saya tidak tahu apakah Chavez memikirkan juga orang-orang yang mati karena kemiskinan dan kemelaratan yang timbul setelah persetujuan damai, tetapi seharusnya orang mempertimbangkan hal ini.

Dan yang terakhir, saya pikir politik Chavez ini betul-betul identik dengan pidato Felipe Perez Roque, Menteri Luar Negeri Kuba, saya diceritai orang, yang dia ucapkan empat tahun yang lalu dan saya bertanya-tanya apakah analisa dan pernyataaan ini benar-benar datang dari pikirannya Chavez atau hanya mengulangi garis politik Kuba yang dulu, lebih dari sepuluh tahun yang lalu, yang menentang FARC, satu politik rekonsiliasi yang mencari sekutu borjuis diseluruh benua, termasuk dalam 6 tahun terakhir ini persekutuan dengan Uribe, politik yang bersumber kepada ideologi Fidel Castro yang lima tahun yang lalu berkata bahwa gerakan gerilya sudah selesai. Jadi saya tidak tahu apakah Fidel atau orang-orang Kuba yang mempengaruhi Chavez atau itu merupakan inisiatifnya sendiri, tapi bagaimanapun juga ada kesamaannya dalam hal ini. Kemudian, pelenyapan terhadap FARC tidak akan melenyapkan imperialisme, malahan akan menghasilkan satu efek bumerang, karena begitu terkonsolidasi posisinya di Kolombia, menjadi mudah bagi basis militer Amerika untuk menduduki ruang-ruang di Kolombia, Uribe akan menjadi lebih agresif lagi dalam hubungan dengan perbatasan dengan Venezuela, dengan demikian secara strategis menahan musuh dengan kedua tangannya bebas untuk menekan dan menyerang Venezuela. Keberadaan FARC mempunyai bobot karena sebagian dari tentara pasukan Kolombia terkonsentrasi kepada konflik ini, sedangkan kalau FARC tidak ada, menjadi lebih mudah untuk memusatkan semua kekuatan melawan Venezuela. Saya percaya bahwa Chavez berpikir dia akan mendapat jabatan tangan dan pelukan dari Uribe karena serangannya terhadap FARC; iya, Uribe akan memeluk dia dengan pisau ditangan kanannya. Itu satu malapetaka karena akan memperkuat garis pemerintah pemerintah liberal dan tengah kiri di Amerika Latin yang telah memperlihatkan ketidak-mampuannya dan saya pikir itu tidak menguntungkan rakyat, termasuk rakyat Venezuela, dan dengan cepat juga akan merugikan Chavez sendiri.

TENTANG CHAVEZ DAN FARC PEMBERONTAKAN BERSENJATA ADALAH SEJARAH JAMAN SEKARANG DAN MASA DEPAN

Oleh : Narciso Isa Conde
Rebelion: 12 Juni 2008

Dengan perasaan hormat, kasih sayang dan solidaritas kepada revolusi Bolivariana Venezuela, dengan perasaan kagum terhadap Komandan Hugo Chavez Frias, saya ambil keputusan untuk mengemukakan secara terbuka penolakan terhadap politik dan konsep yang baru-baru ini dikemukakan mengenai FARC, perjuangan bersenjata, perang gerilya, pertukaran tahanan politik dan perdamaian di Kolombia.

Mengenai tema-tema tersebut, sebenarnya akan lebih senang kalau saya mengacu/merujuk, sebagaimana yang saya lakukan dalam bulan-bulan terakhir ini, kepada Chavez yang bicara soal pertukaran bersifat humanis, pertukaran tahanan politik dari kedua pihak, perlunya mengakui FARC-EP sebagai “kekuatan yang sedang berperang”(belligerent status), tidak mungkinnya menghancurkan pemberontakan bersenjata melalui jalan militer, perspektif jalan keluar politik terhadap konflik bersenjata berdasarkan kepada dialog-dialog serius, dan sifat rejim Uribe sebagai alat perang dari Amerika Serikat.

Tetapi dalam pernyataan yang sedang kita bicarakan disini, yang sekarang sudah bergulir dalam semua sarana komunikasi di seluruh planet, Komandan Chavez mengajukan kepada Komandan Tertinggi FARC-EP yang baru, Alfonso Cano, usul sebagai berikut :
– Bebaskan semua tawanan tanpa minta ganti apa-apa
– Perang gerilya di Amerika Latin dan Karibia sudah “tidak sesuai/cocok”, sudah “masuk sejarah”
– Harus meninggalkan jalan ini karena FARC merupakan “dalih/alasan” untuk menyerang negeri-negeri tetangga, untuk menuduh orang teroris dan melindungi teroris dan untuk melakukan perang di daerah ini.
– Harus dengan segera memulai perundingan damai melalui bantuan OEA (Organisasi Negara-Negara Amerika) dan pemerintah-pemerintah yang ia sebut.
Terus terang saja, bagi saya, yang paling saya tolak dari pendirian Chavez bukanlah yang berhubungan dengan pembebasan tahanan yang ada ditangan FARC secara sukarela dan tanpa syarat, walaupun yang adil dan sahih adalah tidak memikirkan masalah ini secara sepihak, melainkan satu pertukaran yang sungguh-sungguh dibawah satu kondisi keamanan bagi kedua pihak.

Lagi pula, masih bisa diperdebatkan apakah menjadi tawanan di gunung , di kamp-kamp gerilya lebih buruk dari pada di penjara-penjara Kolombia ditangan tentara/polisi yang menyiksa, memukul dan membuat orang kelaparan. Tetapi itu bukanlah hal yang pokok, juga bukan hal yang pokok usul untuk melakukannya secara sepihak, karena langkah seperti itu dapat dianggap sebagai satu sikap humanis yang diperlukan dan secara politik menguntungkan pada satu saat tertentu. FARC sendiri sudah bersikap demikian dalam kesempatan yang lalu, walaupun siapapun pasti dapat merasa jengkel karena sudah mengambil sikap yang flexible, sedangkan pihak yang lain tidak pernah mau memberi, malahan menyerang dengan kejam percobaan untuk melakukan pertukaran, sementara itu kawan-kawan seperjuangan dan kaum oposisi menderita kemelaratan di penjara-penjara yang kotor menjijikan dan kejam, bahkan sampai di extradisikan seolah-olah mereka penjahat vulgar.

Bagi saya, yang paling pokok dari semua pernyataan Chavez adalah yang berhubungan dengan kerugian /akibat negatif dari perjuangan bersenjata yang dilancarkan oleh FARC-EP dan perang gerilya di benua ini.

Karena sebenarnya bentuk perjuangan tidak bisa dikarang-karang atau didekritkan, melainkan ia lahir sebagai satu kebutuhan, keadaan membuatnya menjadi relevan, diciptakan oleh rakyat, didorong dan diorganisasi oleh kaum revolusioner, dan berkembang dalam kondisi-kondisi tertentu.

Demikian juga dari mimbar apapun, tidak mungkin menyatakan satu bentuk perjuangan sudah kedaluwarsa dan tidak penting lagi, apa lagi dari satu posisi yang ada diluar dinamikanya.
Sesungguhnya, kalau satu bentuk perjuangan tertentu, gerilya atau bukan, bersenjata atau tidak, pemberontakan atau bukan, merupakan satu data dari satu kenyataan,, satu perjuangan masa kini,tak bisa kita mengatakan bentuk perjuangan itu sudah “masuk dalam sejarah”.

Lagi pula, tak ada metode perjuangan yang sudah dibuktikan keampuhannya, menjadi sesuatu yang masuk sejarah selama sebab-sebab yang melahirkannya masih terus ada, justru sebaliknya, pada umumnya metode itu secara periodik terulang kembali dengan cara atau modalitas lama dan yang baru. Begitulah yang terjadi, walaupun bisa terjadi bentuk itu hilang untuk satu periode tertentu, walaupun misalnya gerakan yang melancarkan dan mengembangkannya mengalamani kekalahan.

Hal ini lebih masuk akal lagi kalau kita bicara soal perlawanan, pemberontakan dan atau ofensif yang tidak reguler terutama ditinjau dari segi perjuangan rakyat.

Perang gerilya adalah satu tradisi tua yang sudah ada sejak perjuangan melawan perbudakan, dan sudah melalui sejarah dan masa kini kontinental dan dunia. Bentuk-bentuk lain dari perjuangan bersenjata masa kini juga mendapat stigmatisasi dari para penjajah dan kaum kolonial baru.

Demikian juga ledakan-ledakan sosial dan pemberontakan kota termasuk pemberontakan militer seperti yang dipimpin oleh Chavez dan pimpinan Gerakan Revolusioner Bolivariano 200, 15 tahun yang lalu. Kalau begitu, dapat juga dikatakan bahwa contoh yang diberikan oleh militer Caamano dan Fernandez Dominguez di Republik Dominica, oleh perwiraperwira Venezuela dari Carupano dan Puerto Caballo, Torrijos di Panama, Velasco Alvarado di Peru dan Torres di Bolivia (semua ini terjadi pada tahun 60-an, akhir tahun 70-an) “sudah kedaluwarsa”, tidak sesuai lagi atau sudah “masuk sejarah”.

Tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Saya ingat, ketika ia membuat generalisasi yang tidak tepat pada Forum Sao Paulo di Havana pada tahun 1994, raksasa revolusioner yang bernama Fidel Castro, menegaskan bahwa jalan perjuangan bersenjata di Amerika Latin dan Karibia sudah tertutup. Tak lama kemudian meledak pemberontakan bersenjata bangsa Indian di Chiapa, Mexico, yang dipimpin oleh Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN=Ejercito Zapatista de Liberacion Nacional), sementara itu perlawanan bersenjata di Kolombia berjalan terus.

Saya ingat juga ketika menteri Luar Negeri Kuba, Roberto Robaina dan juga Fidel sendiri, dalam rangka kunjungan resmi di Kolombia, membuat pernyataan yang sama, tetapi perlawanan bersenjata di negeri itu meneruskan jalannya sendiri dan perjuangannya terus berkembang.
Tidak ada satu resep, juga tidak ada proses yang identik dan reguler. Bisa ada satu kecenderungan yang agak menonjol di satu daerah tertentu dari negeri-negeri di benua ini, tetapi selalu dalam satu keaneka-ragaman yang kaya.

Di Kolombia, yang terjadi sebenarnya adalah lebih banyak dari pada sekedar “perang gerilya”. Ada satu perlawanan bersenjata yang kuat dan berakar yang terjadi pada pokoknya dipedesaan, khususnya yang dipimpin oleh FARC dan ELN.

FARC telah berkembang menjadi satu Tentara Rakyat dengan puluhan ribu prajurit dan milisia.

FARC adalah sejarah, masa kini dan masih terbentang dihadapannya masa depan, meskipun sekarang ini sedang menghadapi saat-saat yang sulit.

Saya pikir evaluasi dan ramalan yang dibuat baru-baru ini oleh penganalisis Fransisco Herreros adalah tepat, ketika dia menegaskan:

“FARC bukanlah satu gerakan narcosis-gerilya teroris yang terpojok dan didorong oleh ambisi dari satu pucuk pimpinan yang gila dan usang seperti yang dinyatakan oleh propaganda resmi beracun.

“FARC adalah satu gerakan politik dan militer, wakil dari satu sektor khusus dalam masyarakat Kolombia, yaitu kaum tani yang terusir dari tanahnya, yang disisihkan, dan dibunuhi selama puluhan tahun oleh paramiliter, dilengkapi oleh satu program politik yang ia jalankan dengan penuh keuletan dan yang dalam 44 tahun perjuangannya telah membangun sesuatu yang mendekati kategori Tentara Rakyat dan merupakan satu alternatif yang terjadi dalam sejarah modern.”

“FARC adalah satu Tentara Rakyat yang dalam 44 tahun sejarahnya telah belajar satu taktik perjuangan yang ia kuasai dengan mahir dan cakap, berdasarkan kepada gerak dan pengetahuan teritori yang baik yang secara langsung diwarisi dari kegeniusan Marulanda.

“Memang benar bahwa kematiannya, bersamaan dengan ofensif frontal yang diperintahkan oleh Uribe, terjadi pada waktu yang sama dimana satu rangkaian pukulan diderita FARC akhir-akhir ini, diantaranya, pembunuhan terhadap anggota Sekretariat, Raul Reyes dan Ivan Rios.

“Walaupun demikian, salah satu tahap paling kritis dalam sejarah FARC terjadi dalam satu konteks ofensif militer yang sudah berlangsung selama 6 tahun, didukung oleh sumber-sumber ekonomi hampir tanpa batas dan kemampuan operasi angkatan bersenjata negara yang ditingkatkan secara besar-besaran, tetapi hal ini bukanlah untuk pertama kalinya dan bagaimanapun tidak akan menentukan kekalahannya. Kalau kita pakai perbandingan, pukulan-pukulan yang diderita FARC pada awal sejarahnya, ketika masih dalam proses membangun pengalaman tempurnya, jauh lebih membahayakan bagi kelangsungan hidupnya.

“FARC tahu menarik pelajaran dari semua krisisnya, dan kali ini tidak akan menjadi perkecualian” (1 Juni 2008)

Demobilisasi dari apa yang sudah diakumulasi secara militer oleh perlawanan bersenjata Kolombia, tidak saja akan merupakan satu tindakan bunuh diri, tetapi juga akan memudahkan realisasi dari rencana strategis militer Amerika Serikat di daerah ini dan terutama sekali akan menghilangkan halangan besar terhadap aspek amerika selatan dari perang globalnya yang bertujuan untuk menguasai secara militer bagian terbesar dari Amazonia.

Itulah yang tidak sesuai dengan ancaman imperialis sekarang ini.
FARC, sebagai kekuatan politik dan militer, harus dipertahankan dan dikembangkan; dan yang kita inginkan sekarang bukanlah membuat kesalahan serius yang membawanya kedalam satu perundingan menuju perlucutan senjata dan penerimaan atas order institusional yang ada sekarang , melainkan mengatasi kesulitan-kesulitan saat ini untuk mencapai ritme pertumbuhan dan perluasan untuk menyumbang kepada pembentukan satu Kolombia baru, satu Kolombia Bolivariana.

Ini bukan hanya disebabkan oleh nilai khusus dari bobot politik dan militernya bagi satu perubahan menuju satu kelembagaan baru di satu negeri dimana bercokol satu negara narcosis-paramiliter-teroris yang berpretensi sub-imperialisme-daerah dengan satu oligarki yang jahat dan intervensi militer Amerika yang terus meningkat, tetapi juga, dan terutama,, disebabkan oleh apa yang dapat ia sumbangkan melalui kemampuan perlawanannya yang sangat besar, pengalamannya yang berharga dalam perang ireguler untuk mengimbangi,
mencegah dan atau menggagalkan rencana militer Amerika untuk menduduki Amazonia dan maksud Yankee dan kaum oligarki untuk mendestabilisasi dan menghancurkan proses transformasi di Venezuela, Ecuador dan Bolivia.

Di sebelah utara dari Amerika Selatan, pusat kisaran gelombang revolusioner daerah, rencana penjajahan neo-imperial dari Amerika Serikat menghadapi 3 halangan: 1) FARC dan kekuatan berontak lainnya dan semua gerakan politik dan sosial alternatif Kolombia, 2) Pemerintah Chavez dan proses menuju Revolusi dan 3) Pemerintah Rafael Correa dan semua kekuatan yang mewakili proses itu.

Saya termasuk mereka yang berpendapat bahwa keberadaan FARC telah sangat mempersulit rencana intervensi yankee terhadap Venezuela dan Ecuador. Dan itu, menurut pengertian saya, menjelaskan usaha besar dari Uribe dan alap-alap Washington untuk mempengaruhi dan mencoba menghancurkan secara militer kekuatan berontak yang besar ini.

Diperlemahnya salah satu dari tiga faktor itu (sasaran dari serangan imperialisme) tanpa diragukan akan mempengaruhi faktor yang lain. Persatuan ketiga factor itu, melampaui stigma dan prasangka yang menjauhkan mereka, adalah sangat penting sekali bagi zone benua ini dan juga bagi seluruh daerah.

Oleh karena itu, FARC bukanlah satu dalih untuk agresi imperialis, yang mampu menghilangkan bahaya itu melalui lenyapnya ia sebagai kekuatan politik dan militer. Sama sekali bukan.
FARC adalah satu faktor perlawanan terhadap pendudukan Kolombia dan Amazonia oleh kekuatan militer yang mengabdi kepada alap-alap Washington. FARC adalah satu komponen penting dalam kemampuan potensial untuk melancarkan perang asimetris oleh rakyat dan negara yang berdaulat yang dapat mencegah tujuan pokok dari kapital transnasional Amerika untuk menguasai minyak, gas, karbon , mineral strategis, air dan biodiversitas yang disimpan dalam salah satu daerah paling kaya dalam sumber-sumber pokok tersebut. Sekarang ini ia sedang menghadapi perang imperialis ukuran sedang dan kecil dengan kecenderungan meningkatkannya di Kolombia dan tempat lainnya.

Pemerintah Venezuela, Bolivia dan Ecuador, disebabkan oleh ketetapan hati dan usahanya untuk mengontrol sumber alam yang menjadi miliknya, merupakan sasaran dari agresi politik dan militer, sama seperti FARC dan semua yang mewakili satu perubahan politik-sosial di Kolombia.

Jadi bukan masalah dalih atau alasan. Masalahnya adalah masalah tujuan dan kepentingan dari mereka yang berkuasa.

Kalau kaum imperialis dan kacungnya tidak dapat menggunakan FARC sebagai alasan, akan diciptakan alasan lain untuk mencapai tujuan itu.

Di Irak tidak ada FARC, tapi ada “senjata pemusnahan besar-besaran”.
Di Afghanistan tidak ada Marulanda, tapi tentara harus dikirim untuk “menangkap” anaknya yang menakutkan, “Bin Laden”.

Di Venezuela tidak ada gerilya, tapi ada “diktator besar”, pemenang dalam 10 pemilihan yang bersih dan kalah dalam satu referedum konstitusional.

Di Bolivia tidak ada FARC, tapi ada seorang Indian cocalero dan oligarki yang berusaha untuk memisahkan bagian dari Bolivia yang ia kontrol.

Dan terus begitu sampai imaginasi dari kaum cendekiawan penasehat perang Washington terealisasi, tanpa melupakan kenyataan bahwa di Venezuela, sebelum Chavez masuk menjadi mediator antara FARC dan Pemerintah, Uribe dan CIA sudah punya satu team pengintai untuk membunuhnya dan sudah dibuat satu rencana untuk “memerdekakan” Zulia dan dengan demikian dapat menguasai reserve minyak.

Bahkan sebelum Komandan Chavez mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan dan tak dapat dimengerti itu, dengan kehadirannya dilakukan serangkaian latihan dan demonstrasi militer untuk memproyeksikan kesiapan dan kemampuan Angkatan Bersenjata Bolivariano dan rakyat Venezuela untuk menghadapi kemungkinan invasi Yankee-Kolombia, satu variasi perang asimetris.

Sampai-sampai kecakapan dari kapal terbang Zukoi ditampilkan sebagai peringatan!
Itu artinya pimpinan Venezuela sadar akan apa yang bisa datang dari imperialisme Yankee dan “sub-imperialisme” uribiano-santanderista dan jawaban yang patut mereka terima.

Oleh karena itu reaksi terakhir dari presiden Venezuela yang pemberani dan berbakat terhadap FARC dan arti sesungguhnya dari keberadaan FARC sebagai satu organisasi politik-militer yang berpengalaman , komponen penting dalam perang perlawanan rakyat Bolivarian yang mungkin terjadi, lebih-lebih lagi tidak dapat dimengerti.

Karena, kalau kemampuan berontak rakyat dan dilancarkannya perang seluruh rakyat, satu cara/macam/jenis dari perang ireguler atau perang asimetris merupakan satu-satunya jaminan untuk mencegah dan menghadapi rencana militer intervensi jahat dari Pentagon dan para sekutunya, maka kita harus sepakat dalam memandang FARC sebagai salah satu pilar yang berpengalaman dan sesuai untuk menanggulangi situasi serius semacam itu.

Oleh karena itu, mengapa FARC dianggap sebagai satu sebab atau dalih untuk agresi, dan bukannya sebagai satu komponen dari perlawanan yang justru cenderung mencegah agresi tersebut?

Saya pikir, kerusakan atau kerugian sering terjadi ketika politik Negara atau permainan diplomatis atau manuver taktis diutamakan diatas masalah pokok dan strategis dari satu revolusi.

Kehadiran paramiliter yang kuat di Venezuela dan Ecuador merupakan bagian dari rencana inflitrasi menuju aksi-aksi kontrarevolusioner yang tidak akan dihentikan dengan sikap menjauhi FARC dan seruan untuk meletakan senjata dan membubarkan diri. Disamping itu, sikap dan seruan itu membingungkan dan mempengaruhi secara negatif gerakan kiri revolusioner di daerah ini. Apa lagi, sudah jelas bahwa batu penghalang besar bagi satu perdamaian yang terhormat dan demokratis bukanlah FARC melainkan rejim Uribe dan kaum imperialis Amerika yang memandang persetujuan sebagai penyerahan diri dan peletakan senjata oleh organisasi-organisasi revolusioner dan pelanggengan Negara-oligarki model neoliberal yang tergantung.

Kalau kita mau menarik satu “hasil” dari hampir semua persetujuan perdamaian yang terjadi di benua ini, maka hasil itu adalah kekekalan dari lembaga-lembaga trandisional (demokratis-liberal-representatif) dan kestabilan dari kekuasaan tradisional (kekuatan bersenjata, hubungan kepemilikan oligopoli dan monopoli, kekuasaaan transnasional dan tuan tanah dan mafiokrasi) yang sangat merugikan rakyat.

Dalam hal ini kita harus belajar kepada logika Vietnam: bicara, berunding, mencapai persetujuan tanpa merugikan hubungan kekuatan yang sudah dicapai dan tujuan untuk merubah negeri sesuai dengan kepentingan rakyat dan kepentingan nasional. Maju menuju satu perdamaian terhormat sesuai dengan hasil yang sudah dicapaidalam medan pertempuran dan semua skenario perjuangan klas, patriotik , politik, sosial dan kebudayaan. Kalau FARC memutuskan untuk bertindak justru berlawanan dengan logika kekuasaan baru yaitu kekuasaan rakyat, maka, menurut pandangan saya, tindakan itu berarti menentang mereka sendiri dan menentang sejarah keberadaan mereka sendiri. Dan saya akan berada diantara mereka yang sangat menyesalkan dan menyayangkan hal itu terjadi.

Saat ini, ditengah-tengah bahaya dan masalah serius yang diderita dan dihadapi oleh kekuatan revolusioner sekawan Kolombia, solidaritas saya kepada mereka justru lebih besar lagi, karena perasaan kekawanan saya lebih besar lagi bagi kawan-kawan saya justru pada saat mereka menghadapi kesulitan dan lebih-lebih lagi membutuhkan persahabatan dan setiakawan saya yang tulus.

Demikian juga sikap saya terhadap komandan Chavez, sejak saat ia memutuskan untuk menjunjung tinggi kehormatan militer di tangsi-tangsi, saat ia dipenjarakan dengan tidak adil dan sepanjang pertempuran sengit, penuh resiko tapi juga penuh kehormatan untuk demokrasi baru dan sosialisme baru di tanah air kecilnya dan tanah air besar kita.Kedekatan saya dengan Caamano pada tahun 1965 telah memberi saya kesempatan untuk menilai dan menghargainya dalam dimensi yang sebenarnya. Dan saya tak akan pernah menyesalinya.

Oleh karena itu, tidak ada agresi dalam kata-kata dan kritik saya terhadap seorang pemimpin yang saya hormati dan hargai. Ada keyakinan tulus, ide-ide yang teguh dan kata-kata sekawan dalam menghadapi kenyataan yang komplex dan situasi yang sulit yang diekspresikan dengan maksud supaya dari satu perdebatan yang jujur dan tukar pikiran lahir kebenaran dan kepastian. Mudah-mudahan!

PENGORBANAN MANUSIA TIDAK DIUKUR OLEH MAJALAH MODE

(Satu Catatan untuk Kawan Chavez)
Oleh: Celia Hart Santamaria

Disini saya tidak akan gunakan kata Presiden, satu kali-pun tidak akan saya sebut. Karena renungan ini adalah dengan kawan Chavez, yang saya anggap sebagai tumpuan bagi kemenangan Amerika Kita.

Saya bicara dengan kepercayaan yang mendampingi saya ketika saya mengikuti selangkah demi selangkah denyut revolusioner baru ini.

Baru saja saya baca, sungguh satu kemalangan, berita dari TELESUR yang mengemukakan pendirian Chavez bahwa perjuangan bersenjata adalah satu jalan yang sudah ketinggalan jaman. Ia katakan itu dalam acara Alo Presidente yang terakhir.

Saya harus meyakinkan diri saya sendiri bahwa memang betul dia yang mengatakan begitu, bukannya satu manipulasi musuh. Hampir tidak mungkin bagi saya untuk percaya bahwa prajurit pemberani yang melakukan penyerbuan bersenjata tanggal 4 Februari 1992 itu, sekarang menyatakan: “berakhirnya perang gerilya”.

Che berkata, kita, kaum revolusioner, digerakan oleh satu perasaan cinta yang amat besar. Kekerasan adalah jalan terakhir untuk mencapai pembebasan. Tak seorangpun memilih dengan senang untuk hidup dan mati di hutan belantara, apa lagi jauh dari kehidupan dan keluarga.
Kekerasan adalah salah satu jalan dari sejumlah kecil jalan yang “diijinkan” oleh musuh, dan kita harus konsekwen dalam menjalankannya, walaupun kita salah dalam menjalankannya.
Secara teknis, serangan terhadap Moncada mungkin bukan jalan untuk Revolusi Kuba, serangan terhadap Istana Presiden yang dilakukan oleh para pemuda dari Directorio Revolucionario de Cuba boleh jadi tidak diperhitungkan secara baik, pemogokan bulan April, dan lain sebagainya.
Tetapi Fidel maupun orang revolusioner lainnya, yang menghormati dirinya sendiri, tidak berani mengkritik secara terbuka dihadapan umum aksi penuh kecintaan itu, dan menganggapnya seperti satu hari baik untuk memancing ikan. Ya, aksi itu adalah satu tindakan yang mencerminkan cinta dan pengabdian. Dan itu tidak dapat dikritik dalam satu pidato dengan cara seperti orang dalam pesta.

Pengabdian tidak pernah ketinggalan jaman, lebih-lebih lagi dalam jaman sekarang yang hambar dimana semua orang mengharapkan penyelesaian masalah dengan tanda tangan, pernyataan atau sidang umum.

Kawan Chavez memilih waktu yang terburuk untuk mengkritik FARC. Hanya dalam waktu 3 bulan kekuatan bersenjata kehilangan dua pemimpin terpenting: Raul Reyes, dibunuh tanpa belas kasihan di territori Ecuador dengan melanggar semua perjanjian dan oleh karena itu sampai sekarang Presiden Rafael Correa belum bisa memulihkan humbugging diplomatik dengan Kolombia. Manuel Marulanda meninggal di hutan Kolombia setelah berjuang untuk cita-cita Bolivar selama lebih dari 60 tahun. Tak perduli apakah perang gerilya dalam jaman yang dingin dangkal dan kosong ini, menarik atau tidak, tapi tak seorangpun, sama sekali tak seorangpun berhak untuk mempertanyakan hak untuk berontak.

Saya ingat dulu pada tahun 1992 banyak orang mempertanyakan kudeta militer yang dilakukan oleh perwira Venezuela yang kurus itu dan mengkritik Fidel yang mau menerimanya. Kudeta militer tidak populer, tidak sedang mode. Malahan lebih dari itu. Kudeta militer lebih dipersoalkan dari pada perang gerilya. Akan tetapi banyak diantara kita yang melihat adanya satu perubahan ; kita melihat satu sinar dalam keberanian pemuda yang hanya dengan disemangati oleh Bolivar berontak bersama satu bagian dari tentara Republik itu sendiri .

Dan sekarang Chavez mengatakan perang gerilya sudah masuk dalam sejarah.
Kalau kita memang sungguh-sungguh orang Marxis, jadi bukan Marxis diatas kertas saja, supaya perang gerilya masuk dalam sejarah, kondisi yang melahirkan bentuk perlawanan ini juga harus masuk dalam sejarah. Dan saya tidak lihat itu. Sumber penghisapan justru sekarang lebih jelas lagi, lebih explisit dan lebih menonjol dari pada dulu.

Mudah-mudahan, untuk kebaikan kita sendiri, perlawanan di Afghanistan, Palestina dan Irak dapat menemukan jalan perang gerilya yang terorganisasi dan koheren.

Tidak, Chavez! Baik perang gerilya maupun pemogokan maupun propaganda revolusioner….tak satupun bentuk perlawanan yang ketinggalan jaman. Semua bentuk perlawanan adalah syah.
Minggu lalu, kawan saya, Chavez, menyatakan:

“Sudah tiba waktunya FARC membebaskan semua yang ditahan di gunung-gunung tanpa minta ganti apa-apa. Itu akan merupakan satu perbuatan besar.”

Sementara pemerintah jahat Kolombia tidak membebaskan ratusan tahanannya yang meringkuk di penjara-penjara dan diadili karena penindasan fasisnya terhadap ribuan pejuang, satu-satunya alternatif kita adalah berjuang. Jadi belum tiba waktunya untuk hal lain kecuali untuk berjuang.
Waktunya sudah tiba bagi FARC untuk menangisi kehilangannya dan mengambil kembali, mereka sendiri tanpa intervensi siapapun, tugas dan fungsi sebuah organisasi yang dengan segala kekurangannya yang tak terbatas, toh mampu mempertahankan keberadaanya sebagai kekuatan yang sedang berperang, dan dengan demikian melanggar aturan suci dari tesis selesainya sejarah.
Pertama-tama apa yang seharusnya kita lakukan, presiden atau pengemis, kalau memang betul-betul revolusioner , adalah memberikan solidaritas dan dukungan kita. Paling tidak itulah yang akan dikatakan Che kepada saya. “…menciptakan syarat-syarat yang menguntungkan bagi satu proses perdamaian di Kolombia, maka pembebasan semua tahanan dapat dianggap sebagai langkah pertama untuk mencapainya…”

Proses perdamaian di Kolombia? Dengan Uribe yang mencoba untuk dipilih kembali? Dengan Armada ke IV sejengkal jauhnya dari Venezuela Bolivariana? Dengan kuburan masal penuh dengan tubuh yang terpenggal-penggal dan koyak-koyak dan keluarga yang porak poranda?
Pemerintah Kolombia tidak saja tidak mau damai di Kolombia, kecuali dengan orang revolusioner yang sudah bertekuk lutut, tapi juga tidak mau damai dengan negeri tetangganya, Venezuela dan Ecuador. Sikap itu begitu jelas bagaikan kristal sampai dapat disampaikan melalui film karton anak-anak dan mereka bisa dengan mudah menunjuk siapa “bandit” dalam film itu.

Siapapun yang jadi presiden Amerika Serikat yang akan datang, sejarah penuh penderitaan dari negeri yang terus mengalirkan darah sejak pembunuhan terhadap Gaitan tidak akan diselesaikan dengan beberapa persetujuan dan gerilya yang turun dari gunung-gunung dengan menundukan kepala.

Jadi langkah pertama adalah supaya terkonsolidasi kekuatan yang berperang, supaya berkembang rasa harga diri, dan penilaian kembali atas metode-metode aksinya, bukannya menyerahkan diri. Meninggalkan perjuangan bersenjata seperti yang diusulkan oleh Chavez, hanya karena gerilya tidak pakai rok mini, bagi saya seperti satu mimpi buruk.

“Dengan sekelompok negeri, seperti Argentina, presiden Brazil (Luis Ignacio Lula) yang sering telpon saya, Presiden Ecuador (Rafael Correa), Presiden Perancis (Nicolas Sarkozi), Presiden Pemerintah Spanyol (Jose Luis Zapatero), bahkan Presiden Portugal, Socrates , juga Raja Spanyol, barangkali juga Vatican, Komisi OEA (Organisasi Negara-Negara Amerika), saya yakin mereka dapat membantu terciptanya satu perdamaian yang terhormat”.

“Dari sini saya minta bantuan kepada Dunia, karena saya merasa sebagai orang Kolombia Besar. Begitu banyak perang, sudah cukup! Tiba waktunya untuk duduk dan berunding untuk perdamaian. Saya serukan kepada Dunia untuk menemukan jalan ini”.

Saya dapat memberi komentar satu persatu atas sekutu Chavez untuk melenyapkan gerilya dari benua ini; tetapi saya hanya akan menyebut yang simtomatis saja.

Kepada Lula, kalau memang hampir tiap hari bicara dengan dia, akan saya minta untuk menarik mundur pasukannya dari Haiti, pulau yang menderita itu, dan supaya tentaranya berhenti membunuhi rakyat negeri yang paling sengsara di Amerika.

Kepada Sarkozi, akan saya perintahkan supaya menghentikan praktek-praktek seudo-fasisnya terhadap penduduk imigran..

Dan kepada Raja …. Ya Allah, Raja Spanyol! Barangkali akan terlintas lagi pikiran untuk memerintahkan kepada Chavez untuk tutup mulut.

Chavez salah dalam memilih sekutu, dalam politik, dalam perang, dalam persahabatan dan cinta. Ini sangat berbahaya.

Kaum revolusioner dunia melihat tokoh Chavez sebagai satu referensi dan dukungan. Bagi kita tidak penting jabatan presidennya , yang penting adalah suara revolusionernya. Arti penting dari Chavez terletak pada kenyataan dialah yang menggulirkan kata-kata Revolusi dan Sosialisme, walaupun penuh dengan kekurangan dan ketidak jelasan/ambiguitas.

“Sekarang ini, gerakan gerilya bersenjata sudah bukan jamannya lagi. Ini harus disampaikan kepada FARC., dan inilah sebetulnya yang saya ingin utarakan kepada Marulanda”
“Ia menyesali tidak sempat ketemu pemimpin gerilya,, ia ingin mengajukan petisinya supaya membebaskan semua tahanannya”.

Hanya itu? Manuel Marulanda patut bicara dengan seorang Bolivariano yang baik. Patut diajak berdialog untuk memulai perjalanan agung dan mulia seorang pejuang pembebasan.
Hati-hati! Bukan imperialisme yang menggagalkan kemerdekaan Amerika, melainkan pengkhianat Santander dan kaum Oligarki setempat.

Uribe bagi Amerika sama dengan Olmert bagi Timur Tengah. Dengan pemerintah seperti itu tidak akan ada saling pengertian, sudah tentu saling pengertian yang lebih jauh dari pada yang dibutuhkan untuk hubungan tingkat Negara.

Walaupun dengan hati yang sakit, saya bersyukur Chavez tidak dapat bertemu dengan Marulanda. Dengan demikian meninggallah pejuang besar itu dengan tenang!

Sungguh sangat tidak adil, ditinjau dari segi etik manapun, untuk menyingkatkan hanya dalam dua kata :” tidak diperlukan” dan “ketinggalan jaman” sesuatu yang sudah menelan jiwa ratusan ribu saudara-saudara Amerika Latin kita.

Presiden Venezuela menegaskan bahwa keberadaan gerilya telah menjadi satu alasan bagi imperium (maksudnya Amerika Serikat) untuk mengancam kita semua. “Kalau Perdamaian dicapai di Kolombia, tidak ada lagi alasan bagi imperium….” Kata Chavez.

Musuh tidak perlu alasan untuk mengancam kita, tidak diperlukan alasan untuk mengagresi Kuba, untuk memblokade Kuba, untuk memenjarakan lima saudara kita dengan tuduhan yang tak masuk akal dan menggelikan; tidak membutuhkan alasan untuk membebaskan pembunuh Luis Posada Carriles. Dan kalau mereka membutuhkan alasan, maka dengan sangat mudah diciptakanlah alasan itu, itulah yang terjadi dengan kasus komputer yang mereka rampas di Ecuador.

Satu-satunya dalih bagi imperialisme adalah uang, sumber minyak di Orinoco, air dan udara. Itulah alasan mereka, bukannya perjuangan gerilya Kolombia yang bersejarah!

Sebentar lagi kita akan memperingati ulang tahun Che yang ke 80 yang gugur dalam satu perang gerilya di Amerika. Saya harap el Che belum ketinggalan jaman.

Saya harap apa yang dikatakan Che dalam buku hariannya di Bolivia tidak ketinggalan jaman: “Dimanapun kita menjumpai kematian, kita sambut kedatangannya, selama seruan perang kita sampai ke telinga mereka yang mau mendengarkan”.

penulis  Hasta la victoria siempre!

Goo koteka

GOO KOTEKA Adalah Aktivis Hak Asasi Manusia yang Khusus Memperjuangkan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua. Melalui web ini ingin Mengaspirasikan Penderitaan Rakyat dibawah Penjajahan Kolonialisme,Kapitalisme dan Militerisme. FREEDOM WEST PAPUA.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top