ads

Nasional

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

foto doc:West Papuan student leader Alfaris Kapisa was tortured by the Indoensian police last year after a rally in Port Numbay/Jayapura

Dalam laporan tersebut, pemerintah AS mengungkapkan untuk informasi dunia rinci penekanan Negara Indonesia hak asasi manusia di Papua Barat, terutama sebagai sarana menindak penentuan nasib sendiri dan kampanye kemerdekaan. Laporan tersebut menyatakan:

"Konstitusi dan hukum memberikan kebebasan berbicara dan pers. Pemerintah menggunakan undang-undang terhadap advokasi separatisme untuk membatasi kemampuan individu untuk melakukan advokasi damai untuk kemerdekaan. "Departemen Luar Negeri AS benar-benar dibahas rincian kriminalisasi ini advokasi kemerdekaan damai, mengatakan:"The (Indonesia) hukum mengkriminalisasi konten yang menganjurkan separatisme. Beberapa LSM dan organisasi lainnya diduga pemantauan pemerintah organisasi mereka, dan penerapan hukum pemerintah pengkhianatan dalam kasus panggilan damai untuk separatisme di Papua membatasi hak individu untuk terlibat dalam pidato dianggap pro-separatis. Setelah organisasi separatis damai Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menyerukan boikot pemilu 2014, LSM melaporkan sebanyak 36 orang ditangkap pada periode sebelum pemilihan presiden untuk mendistribusikan bahan pro-boikot atau menganjurkan boikot . Sebagian besar kemudian dibebaskan tanpa tuduhan. Pada bulan Agustus, 11 anggota KNPB ditangkap di Asmat karena berusaha untuk mendirikan kantor cabang organisasi mereka. "Pemimpin studnet barat Papaun Alfaris Kapisa disiksa oleh polisi Indoensian tahun lalu setelah rally di Port Numbay / JayapuraPemimpin mahasiswa Papua Barat Alfaris Kapisa disiksa oleh polisi Indoensian tahun lalu setelah rally di Port Numbay / Jayapura"Polisi di Papua secara rutin menolak mengeluarkan tanda terima pemberitahuan kepada calon demonstran dengan alasan demonstrasi kemungkinan akan melibatkan panggilan untuk kemerdekaan,".Sebuah contoh yang tercantum dalam laporan Departemen Luar Negeri adalah polisi Indonesia mengatakan bahwa mereka akan mengeluarkan Papua Barat dengan izin protes di April 2014 tetapi tidak pernah mengeluarkan satu. Pemimpin mahasiswa Alfaris Kapisa dan Yali Wenda ditangkap dan dipukuli oleh polisi di protes ini.


sumber: http://freewestpapua.org/2015/07/13/us-condemns-indonesian-human-rights-abuses-in-west-papua/

Goo koteka

GOO KOTEKA Adalah Aktivis Hak Asasi Manusia yang Khusus Memperjuangkan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua. Melalui web ini ingin Mengaspirasikan Penderitaan Rakyat dibawah Penjajahan Kolonialisme,Kapitalisme dan Militerisme. FREEDOM WEST PAPUA.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top