ads

Nasional

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5






Bagi orang Papua, khususnya saudara-saudari kita suku Mee mengatakan, “tanah adalah ibu.” Mereka mengatakan tanah sebagai ibu karena melalui tanah kita diasuh, asi dan asa. Kita diberi makan dari tanah. Kita membangun rumah di atas tanah dan kita hidup di atas tanah. Supaya kita diasa sehingga dengan pikiran jernih dan hati penuh bersyukur membaktikan diri pada Tuhan atas semua anugrah yang diberikan.
Akhir-akhir ini, isu mengglobal di bumi Papua ialah penjualan tanah. Ada saja orang Papua yang tidak menghargai tanah sebagai ibu yang menyusuinya, maka tanah diganti dengan uang. Walaupun nilai uang tidak sebanding kualitas tanah.
Bagi anda yang menjual tanah, entah sepetak atau sebidang kecil saja, kami melihat bahwa anda tidak menghargai tanah sebagai mamamu. Mamamu yang dari waktu ke waktu, dari tete-nenek moyangmu hingga kini, senantiasa mengasuh dan menyusui dan mengasa. Jika kita menjual, mungkinkah kehidupan kita selanjutnya akan menerima asuhan, asian dan asaan yang berlimpah? Adalah sesuatu hal yang mustahil jika memang engkau memperoleh kembali. Terutama anak cucumu yang engkau tambah dan kembangkan. Karena tanah (ibu) yang tadinya milikmu, kini bukan lagi milikmu.
Kami berharap “lebih baik orang yang menjual tanah mati, dari pada menyusahkan anak cucu di kemudian hari.” Pernyataan ini, kami beritahu secara keras dan kasar karena penjualan tanah sungguh tidak baik juga tidak menghargai tanah sebagai mama yang senantiasa memberikan kehidupan.
Kami jengkel karena orang Papua mempunyai tangan untuk bekerja tetapi kelihatannya tidak mau bekerja dan hanya menjual saja. Adakah anda-anda yang menjual tanah sembarang adalah bukan manusia? Karena kalau manusia bukan anda menjual melainkan membuat ladang perkebunan atau membangun rumah sebagai tempat tinggal. Dan bekerja, sebab kerja adalah identik dengan kehidupan manusia.
Sekarang orang Papua sudah mulai mengungsi ke dusun-dusun, ke lereng-lereng perbukutan. Bahkan ada yang di atas gunung-gunung yang tinggi, di atas laut dan danau. Kami tidak tahu kehidupan orang Papua beberapa tahun mendatang. Apakah orang Papua akan tinggal di udara dengan sayap atau di dasar laut dengan sisiknya.
Sungguh orang Papua tidak menghargai karunia pemberian Allah yang penuh rahmat. Allah memberikan yang paling terindah bagi orang Papua, justru orang Papua mau memilih yang paling pahit dan menderita.
Sekarang kami berikan satu ilusi mengenai tanah yang sedang dijual ini. Misalya, tanah yang dijual kini, sudah dijual oleh tete nenek moyang zaman dahulu, apa yang anda alami kini. Pastikan anda menderita karena anda tidak mempunyai tanah.
Nah, persis situasi seperti itulah yang akan dihadapi oleh anak cucu masa depan. Maka kalau orang Papua mau menjual tanah, harus mempertimbangkan secara masak. Namun kami menganjurkan lebih baik saya memiliki sebidang tanah dari pada saya memiliki berjuta-juta, bahkan bermiliaran uang, tetapi akan habis suatu kelak, dibandingkan dengan tanah yang tak pernah habis dimakan waktu.
Maksud kami mau memberitahukan, bahwa orang Papua tidak boleh menjual tanah karena anda juga mempunyai tangan untuk menggarap. Masa orang Papua mau kalah dengan orang luar. Ketika  orang Papua tidak mau bekerja lalu menjual tanah kepada orang luar. Bukankah kita tidak malu? Makanya, kalau malu, Tuhan menciptakan seluruh anggota tubuh untuk bekerja memelihara, merawat dan menyempurnakan dunia. Sehingga harus bekerja bukan menjual dan menonton saja.
Yang lebih parah lagi, mereka yang menjual berhektar-hektar tanah, tetapi uang yang didapatkan berfoya-foya dengan alat-alat elektronik. Bukankah alat elektronik akan berkarat dan rusak dalam sekejap perjalanan jelang waktu?
Maka bagi pribadi saya, tanah adalah mamaku yang kuterima dari Allah sebagai anugrah terindah. Untuk itu, apa pun bendanya, berapa pun uangnya yang membayar mamaku, biar uang dan bendamu adalah milikmu. Tanah adalah milikku selamanya. Dan tanah adalah warisan yang kuterima dari Allah melalui tete-nenek moyangku dan akan menjadi ahli waris anak cucuku pula.
Saya tetap berprinsip demikian, karena saya tidak mungkin dapat menciptakan tanah segenggam pun. Apa lagi yang berhektar-hektar. Sehingga tanah yang diberikan Tuhan adalah milikku, yang harus kugarap sehingga menjadi sebuah kebun yang darinya dapat menghidupiku, di hari-hari hidupku. Dapat menghidupi anak-anak cucuku di masa mendatang. Karena tanah itu jugalah yang menghidupi tete dan nenek moyangku di masa silam.

oleh:Yesaya Koteka Goo Mahasiswa Papua Kuliah Jogyakarta.

Goo koteka

GOO KOTEKA Adalah Aktivis Hak Asasi Manusia yang Khusus Memperjuangkan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua. Melalui web ini ingin Mengaspirasikan Penderitaan Rakyat dibawah Penjajahan Kolonialisme,Kapitalisme dan Militerisme. FREEDOM WEST PAPUA.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top