ads

Nasional

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

foto doc:yesaya koteka goo

Realitas pembunuhan manusia dan kemanusiaan, penindasan dan pembiaran merupakan pengetahuan umum bagi semua orang di Negeri ini. Sepanjang sejarahnya, rakyat Papua tidak pernah dihargai sebagai manusia sejati, seperti sesama lain. Keluhuran dirinya sebagai manusia yang secitra dengan Allah tidak pernah dihormati dan diperhitungkan sebagaimana mestinya dalam berbagai aspek kehidupan. Kita lihat saja aspek kemanusia/HAM di Papua. Pelanggaran HAM yang terjadi sejak Trikora 19 Desember 1961 seperti Operasi Sadar (1965-1967), Operasi Brathayudha (1967-1977), Operasi Sapu Bersih I dan II (1981), Operasi Galang I dan II (1982), Operasi Tumpas (1983-1984), dan Operasi Sapu Bersih III (1985) sampai kini masih diperaktekkan oleh TNI dan Polri atas nama Negara.

Ada beberapa contoh baru yang dilakukan Militer, Brimob dan Polisi terhadap warga asli Papua adalah peristiwa pembunuhan atas 4 (empat) warga sipil di Kabupaten Paniai 16 Desember 2012, Abepura berdarah pasca KRP III yang menewaskan 4 orang, membumihanguskan barang berharga berharga milik warga sipil dan memenjarahkan ratusan warga Papua. Bahkan sampai kini penangkapan atas Forkorus Wamboisembut (Peresiden Negara Fererasi Papua Barat), Edison Waromi (Perdana Menteri Papua Barat) dan para aktivis lainnya masih menjadi polemik panas di Papua. Selain itu, Puncak Jaya dan Tolikara berdarah yang menewaskan 49 orang asli Papua dan 1000 di antaranya luka-luka, 11 Januari, 2012 (bdk Cepos Sabtu/1/2012 hal. 12, kol. 1), yang kini belum pernah diselesaikan melalui dialog damai dan bebas secara tuntas. Semua realitas persoalan yang marak terjadi di negeri Papua masih belum pernah dipublikasikan juga secara objektif melalui berbagai media yang ada baik media lokal maupun Internasional karena kepentingan secular dan konsep yang tak bertanggung jawab secara etis. Padahal semua realitas masalah kemanusiaan ini adalah sebuah iklim yang terus-menerus diputar setiap hari di Papua. Nilai-nilai moral selalu hilang dalam berbagai konsep instas demi kepentingan politik dan ekonomi tertentu.


Akibatnya persoalan nilai kemanusiaan merupakan tindakan kejahatan manusia dan kemanusiaan yang paling dirasa berat, kompleks dan memakan proses yang amat panjang untuk dituntaskan secara komprehensif dan menyeluruh. Selain itu, warga sipil mengalami kehilangan hidup. Kehidupan itu tak pernah dijumpai dalam berbagai kekerasan manusia. Ketika terjadi masalah manusia dan kemanusiaan, maka lahir pula masalah kemanusiaan baru yang lain. Dan peristiwa tragis semacam ini menjadi kegiatan rutin di kalangan rakyat Papua. Nilai manusia dan kemanusiaan itu menjadi terpenjara dalam berbagai kompleksitas masalah baik masalah yang terjadi secara sadar atau tidak sadar, baik yang horizontal maupun vertical di tanah Papua.     

penulis anak mudah papua, oleh yesaya koteka goo

Goo koteka

GOO KOTEKA Adalah Aktivis Hak Asasi Manusia yang Khusus Memperjuangkan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua. Melalui web ini ingin Mengaspirasikan Penderitaan Rakyat dibawah Penjajahan Kolonialisme,Kapitalisme dan Militerisme. FREEDOM WEST PAPUA.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top