ads

Nasional

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5




foto doc:goo koteka free

Papua dari Tahun ke Tahun, sejak  dianeksasi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Tahun 1969 melalui PEPERA dan Perjanjian New York Agreement 1 Mei 1963, walaupun sejak Tahun 1961 menyatakan kemerdekaannya sebagai sebuah Negara Berdaulat, hingga detik ini; kekerasan demi kekerasan terus dilakukan Negara Indonesia atas orang Papua. Kekerasan Negara terhadap rakyat sipil Papua (rakyat kecil yang tidak tahu dan bodoh) menjadi sasaran militerisasinya. Indonesia belum mengakui kemerdekaan Papua dan malah Indonesia menjadikan Tanah Papua sebagai medan kekerasan yang sangat subur. Kekerasan demi kekerasan dari NKRI terhadap rakyat Papua terus terjadi, baik kekerasan fisik yang dapat dilihat dengan  mata-kepala maupun kekerasan terselubung dan tersembunyi, namun pasti demi ‘meng-genoside-kan rakyat Papua. Kekerasan dan penjajahan terus terjadi di Papua dari segala segi kehidupan manusia Papua; dari segi politik. pendidikan, ekonomi, budaya,  lingkungan hidup, kehidupan sosial, HAM, dsb.  Operasi militer secara langsung dan tidak langsung terus terjadi, pembunuhan dan pembasmiaan terhadap orang Papua dibuat secara terstruktur dan tersistem. Akhirnya Papua mempertanyakan eksistensi dirinya, apakah orang Papua akan terus berada hingga selamanya, ataukah Papua akan punah, habis atau musnah pada puluhan tahun mendatang?
Kekerasan-kekerasan yang disajikan dibawa ini menjadi bukti bahwa Papua akan lenyap, habis atau punah ketika berada berasama NKRI dan Papua akan hidup atau terus ada ketika Papua berpisah dan ‘membentuk Negara Papua’. Kekerasan-kekerasan yang kami tuliskan ini menunjukkan bahwa Papua mestinya “tidak layak tinggal bersama NKRI."
Di Papua Operasi Militer juga Operasi Intelijen menjadi praktek harian TNI/POLRI dari Tahun ke Tahun. Misalnya; Operasi Sadar (1965-1967), Operasi Bratayhuda (1967-1969), Operasi Wibawa (1969), Operasi Koteka di Jayawijaya (1977), Operasi Sapu Bersih I dan II (1981), Operasi Tumpas (1983-1984), Operasi Sapu Bersih III (1985), Operasi Militer di Mapenduma (1996), Biak Berdarah (1998), Abepura Berdarah dan  Wasior Berdara (2001) Wamena Berdarah (2001-2003), Puncak Jaya Berdarah (2004). Tidak tahu dalam Operasi-operasi ini berapa ratus ribu manusia dan harta benda Papua yang korban. (goo koteka)


Goo koteka

GOO KOTEKA Adalah Aktivis Hak Asasi Manusia yang Khusus Memperjuangkan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua. Melalui web ini ingin Mengaspirasikan Penderitaan Rakyat dibawah Penjajahan Kolonialisme,Kapitalisme dan Militerisme. FREEDOM WEST PAPUA.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top