ads

Nasional

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5


foto doc:dogiyai berdarah


Dogiyai- Togel atau yang kepanjangannya adalah Toto Gelap, telah beredar di Dogiyai. Togel sesungguhnya dilarang oleh Negara, namum di Dogiyai, Bandar atau pemilik togel adalah anggota Polri yang bertugas di Polsek Moanemani. Nama-nama pemilik togel yakni Bripka I Made Sudarsa dan Briptu EKA. Selain itu pegawai negeri dan pedagang kaki lima yang menjual togel pun di antaranya: Kristian A Pitus, S.Sos, Emen, Udin. Penjual kupon yang diperalat yakni: Aleks Bobii, Yusuf Degey, Yance Auwe, Yulius Tebay, Ance pigay, Vincen Dogomo, Anthon Mote, Wilbrodus Iyai, Martinus Yobe, Martinus Dogomo, Udin, Andi Iyai, Isak Dogomo, Andi Tebay dan Didimus Tebay.

Kronologis Kejadian
Pada hari rabu tanggal 13 april 2011, sekitar pukul 13.30 wit, pada saat ramai-ramainya jual beli kupon togel, tiba-tiba datang mobil Sabhara milik Polsek Kamuu Moanemani yang ditumpangi Anggota Polisi bernama Bripka salahuddin, Brigadier Herman dan dua anggota lainnya (kurang tahu namanya). Setelah tiba di tempat penjualan kupon togel, tanpa kompromi anggota polsek kamuu merampas karton yang berisi uang hasil penjualan kupon togel dan kertas kupon togel, sambil mengeluarkan tembakan peringatan oleh kapolsek. Begitu melihat tindakan perampasan oleh penjual kupon, pemilik berupaya meminta kembalian namun yang berhasil dikembalikan hanya milik yusuf degey. Kemudian hasil rampasan uang lainnya dibawa ke Mapolsek Kamuu Moanemani, lalu masyarakat pembeli kupon togel secara spontan mengikuti mobil sabhara dan meminta dikembalikan uang mereka dari belakang mobil sabhara sampai di Mapolsek.
Setelah sampai Mapolsek, masa atau masyarakat pembeli kupon togel yang ikut dari belakang dan melemparkan batu ke arah Mapolsek. Kapolsek bersama beberapa pegawai dan Pol PP berusaha menahan amukan masa tetapi tidak bisa dibendung dan pelemparan batu ke arah Mapolsek berlanjut lama. Akhirnya, anggota Polsek tanpa melalui penembakan peringatan dan/atau peluru karet untuk melumpuhkan kaki lawan, namun terjadi penembakan langsung dengan peluru tajam yang diarahkan ke masa.

Dari penembakan langsung mengakibatkan korban. Korban tertembak mati atas nama Domin Auwe (24thn). Saat itu, posisi Domin Auwe Sedang menunggu mobil karena ia mau turun ke nabire untuk membeli bibit ternak bebek milik kelompok usaha masyarakat kampung matadi, Distrik Kamuu selatan. Bukan hanya Domin Auwe yang tertembak, masih ada dua orang juga ikut tertembak yakni Otniel Yobee (26thn), Agus Pigay (24thn). Masing-masing kena tembak di dada dan di perut, dan saat ini dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire. Penembakan tersebut terjadi pada pukul 14.10 WIT di depan Mapolsek Kamuu Moanemani.

Setelah masa pelempar batu melihat satu orang tertembak mati dan dua orang lainnya luka tertembak berat, maka masa menyerahkan mayat Domin Auwe oleh beberapa orang di pintu masuk Kantor Polsek sambil berkata “Pa kapolsek Makan Mayat ini”. Selanjutnya secera kompak masa membakar Mapolsek Kamuu Moanemani sekitar pukul 14.30 WIT. Masa juga ramai-ramai membakar kios-kios milik anggota polisi Briptu Eka, Bripka I Made Sudarsa. Selain itu, kios milik anggota polisi brigader Herman yang tinggal di kompleks Pasar Sentral moanemani yang menjadi sorotan masa untuk bakar, namun kios milik pedagang kaki lima, pasar, gereja, mesjid, semua ikut terbakar karena keberadaan bangunannya bersambung dan berdekatan.

Pada hari rabu tanggal 13 april 2011, pukul 15.00 WIT, warga masyarakat Distrik Kamuu Selatan mendengar salah satu warganya mati tertembak dan dua orang lainnya luka berat serta Mapolsek, kios, pasar, gereja, mesjid terbakar habis sehingga mereka datang waita di koramil kamuu moanemani. Setelah waita masyarakat kamu selatan sebagian besar kembali dan sebagian lagi bermalam di kampong Ikebo, di rumah-rumah warga masyarakat karena sudah malam. Pada malam hari pukul 17.30 Wit Brimob dari enarotali tiba di moanemani. Setelah di gunung odedimi menuju mawa, Brimob mengeluarkan tembakan rentetan. Di depan kantor DPPKAD, Brimob memukul dua orang warga masyarakat sampai babak belur, lalu berlanjut ke Puskesmas moanemani langsung menodong dan membentak petugas medis yang bertugas otopsi mayat Domin Auwe, Agus Gigay dan Otniel Yobee, bahkan menembak mati 3 ekor babi milik warga masyarakat Ikebo. Selain itu, Brimob melakukan penyisiran sepanjang jalan ikebo-muniyopa dengan membakar 6 buah rumah penduduk kampung ikebo sehingga perabot rumah tangga dan motor, genset dan lain-lainnya pun ikut terbakar.

Keesekon harinya kamis tanggal 14 april 2011, pukul 08.00 wit terjadi penembakan jarak jauh dari ujung penimbunan jalan moane-muniopa, kampong ikebo terhadap dua orang warga kamuu selatan, atas nama: Alowisius waine (26thn) dan Wilbrodus iyai (34thn) oleh anggota Brimob. Dua korban penembakan tersebut di atas Alowisius waine kena tembakan mati di tempat dan Wilibrodus Iyai kena tembakan di kaki, saat ini ia masih dirawat di rumah oleh petugas kesehatan. Penembakan yang terjadi di kampung ikebo tersebut tanpa melalui tembakan peringatan yang dilakukan oleh anggota Brimob. Pada pukul 09.00 wit anggota Brimob membakar 6 buah rumah milik warga masyarakat kampung ikebo. Sementara di mawa, seorang anak kecil berusia 4 tahun (tebay), tali perutnya keluar dan meninggal karena tertusuk kayu disebabkan panik dan lari atas penyisiran yang dilakukan Brimob.

Seorang ibu Rumah Tangga yang hamil, Anace Boma(30thn), ketika mendengar rentetan dan penyisiran yang dilakukan brimob, walau belum waktunya melahirkan, karena ketakutan dan panik tibah-tibah anaknya keluar dari perutnya dan meninggal di kampong Ikebo, dan kemudian ia menguburkannya dan melarikan diri pada pengungsian di debei.

Warga kamuu, kamuu selatan, kamu utara dan kamu timur, pada tgl 14 april 2011 mengungsi ke tempat yang jauh yakni di Mapia, Debei, paniai, Obano, Pona dan tempat-tempat lain yang jauh, yang dirasa aman bagi masyarakat Dogiyai. Dari pengungsian itu, seseorang meninggall dunia. Orang yang meninggal dunia adalah Natalia Goo (35thn) di tempat pengungsiannya pakouya dan dibawah kembali ke kampong asalnya tuaida.
Pada tanggal 17 april 2011, brimob menodong siswa kelas 3, Negeri Moanemani, Dese Dogomo dan memintahnya untuk menangkap ternak warga. Walau ia menjelaskan kalau ia adalah siswa yang mau ikut ujian dan menunjukan kartu siswanya, namun Brimob cuek dan malah menerornya sehingga ia pun dengan keterpaksaan menangkap ternak warga, walau ia sadar itu dosa dan bukan milik dia.

Penyisiran yang dilakukan mencekamkan warga dogiyai. Menurut seorang ibu yang mengungsi di Debei, ance Dogomo, kami mengungsi dari tanggal 14 april 2011 sampai sekarang (19 april 2011). Kami tidak memiliki makanan jadi kamu sedang lapar di tempat pengungsian. Jumlah pengungsian menurutnya berkisar ratusan masyarakat.


Oleh: yesaya koteka  goo

Goo koteka

GOO KOTEKA Adalah Aktivis Hak Asasi Manusia yang Khusus Memperjuangkan Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua. Melalui web ini ingin Mengaspirasikan Penderitaan Rakyat dibawah Penjajahan Kolonialisme,Kapitalisme dan Militerisme. FREEDOM WEST PAPUA.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top